Selasa, 20 Januari 2015

HANYA SEMANGKUK ES BUAH

HANYA SEMANGKUK ES BUAH

Ivan Taniputera.
20 Januari 2015

Hanya semangkuk es buah
Mengusir penat gerah
Es buah murah meriah
Meminumnya wajah jadi sumringah
Mari mari minum es buah
Boleh juga kalau mau tambah
Lezat cita rasanya lagi nampak indah
Es buah sungguh segar hidup jadi bergairah
Ayo kawan minum es buah
Ada kolang kaling cincau dan sirup jadi kuah
Diminum saat terik mentari mulai merambah
Tidak ketinggalan kelapa muda pastilah sudah
Nikmati rasanya bergoyang lidah
Satu mangkuk kurang demikianlah
Minum tanpa ada dijatah
Namun jangan kita serakah
Harus bisa kira-kira jangan terlalu berlimpah ruah
Sudah segar bugar minum es buah
Marilah kita tersenyum ramah

Selasa, 23 Desember 2014

HANYA UNTAIAN PERMAINAN KATA

HANYA UNTAIAN PERMAINAN KATA

Ivan Taniputera
22 Desember 2014

Aku tidak mengejar kekayaan namun yang kucari adalah uang sebanyak-banyaknya.
Aku tidak mengejar kemashyuran namun yang kucari adalah dikenal sebanyak mungkin orang.
Aku tidak mengejar kekaguman dari orang lain namun aku berharap agar setiap orang mengagumi apa yang kulakukan.
Aku tidak mengejar kesenangan duniawi namun segala sesuatu di sekelilingku harus mengandung kenikmatan ragawi.
Aku tidak pernah sekalipun berbohong walaupun aku tidak selalu jujur.
Aku tidak pernah sekalipun bersikap sombong, walau aku merasa diriku lebih hebat dari semua orang lain.
Aku tidak mengejar keserakahan namun aku sering mengambil sesuatu jauh melebihi yang kubutuhkan, sehingga orang lain tidak kebagian.
Aku tidak pernah berbuat jahat pada orang lain walau seringkali aku merugikan mereka
Aku tidak pernah marah namun aku akan sangat murka kalau engkau tidak mempercayai yang ini.

Senin, 22 Desember 2014

KISAH PELARANGAN BUKU WAKTU SAYA MASIH SMA: SUKA DUKA PEDAGANG BUKU BEKAS

KISAH PELARANGAN BUKU WAKTU SAYA MASIH SMA: SUKA DUKA PEDAGANG BUKU BEKAS

Ivan Taniputera
22 Desember 2014





Dewasa ini kita menyaksikan fenomena bahwa harga buku-buku yang dahulu sempat dilarang kini harganya membumbung tinggi. Saya menjadi teringat apa yang dahulu pernah saya baca di surat kabar semasa saya masih duduk di bangku SMA, kurang lebih tahun 90-an. Artikel di surat kabar tersebut mengisahkan mengenai suka duka para penjual buku-buku bekas. Mereka mengisahkan bahwa pada masa itu terdapat razia bagi para pedagang buku bekas. Salah seorang di antara mereka mengisahkan bahwa ia pernah dimarahi petugas karena dikatakan menjual buku-buku berisikan ajaran atau ideologi terlarang. Ia mengatakan bahwa ia tidak menguasai bahasa asing, sehingga tidak mengetahui bahwa buku berbahasa asing tersebut berisikan ajaran atau ideologi terlarang. Biasanya buku-buku yang katanya berisi ajaran terlarang tersebut lantas disita.
Seorang teman yang kembali dari luar negeri juga mengatakan bahwa membawa masuk buku berbahasa dan beraksara tertentu juga sulit, padahal buku tersebut tidak berisikan ajaran atau ideologi terlarang. Karena ia seorang pelukis, maka buku yang dibawanya adalah tentang lukisan. Hanya saja karena berbahasa dan beraksara tertentu tersebut, buku-buku itu juga tidak lolos.
Demikianlah kisah pelarangan buku di masa lalu.

Sabtu, 20 Desember 2014

PERNYATAAN SIKAP SEORANG WARGA TIONGHOA TERHADAP PENGAKUAN KEDAULATAN REPUBLIK INDONESIA: PIDATO IR. LIEM GHIK DJIEN

PERNYATAAN SIKAP SEORANG WARGA TIONGHOA TERHADAP PENGAKUAN KEDAULATAN REPUBLIK INDONESIA: PIDATO IR. LIEM GHIK DJIEN


Ivan Taniputera
20 Agustus 2014


Berikut ini saya akan tuliskan kembali naskah pidato Ir. Liem Ghik Djien, wakil administratur Pabrik-Gula Mojoagung, Jawa Timur.

Madiun, 27-12-1949

Pidato Ir. Liem Ghik Djien
berkenaan dengan penjerahan
kedaulatan kepada RIS

MERDEKA!

Paduka Tuan2 jang terhormat!
Saudara2ku semua!

Selaku wakil-administrateur dari Pabrik-Gula MODJOAGUNG, demikian djuga selaku wakil dari Suikerssyndikaat, pada hari jang historisch ini, saja merasa perlu mengeluarkan isi hati saja sebagai sambutan terhadap hari tersebut. Sedangkan Sdr. Lie Hoo Soen pidatonja ditudjukan kepada para pembesar2 dan tamu2 lain-lainnja, maka pidato saja chusus saja tudjukan kepada para pegawai P.G. Redjoagung. Terlebih dahulu perlulah saja sebagai pemimpin pabrik Redjoagung menjampaikan rasa terima kasih kami kepada para tamu2 jang telah mengorbankan waktunja jang berharga untuk menghadliri chadjat pabrik jang ta' lain ta; bukan menghormati hari penjerahan kedaulatan ini.
Selandjutnja, agar dapat dimengerti oleh para kaum pekerdja pabrik, perkenankanlah saja mengeluarkan isi hati saja didalam bahasa Djawa.

Para saderek!
Sampun dipun terangaken dening Saderek Lie Hoo Soen maksudipun chadjat punika. Tjekak aosipun, inggih punika tumut mangeti penjerahan kedaulatan saking tangan Landi dateng Republik Indonesia Serikat, ingkang dipun pimpin dening Bangsa Indonesia pijambak. Kadjawi wonten punika ugi, tumut nenuwun dateng Gusti Allah sageda Negeri Indonesia, ingkang sampun ngalami udjian katah sawa awrat, tansah dipun lindungi dening Pandjenenganipun, sahingga ing tembe lantjar pembangunipun. Persatuan kita tansah kokoh, tebih saking rintangan. Amargi saking kokohing persatuan kita anggenipun nglampahaken kewadjiban kita temtu katah hasilipun. Negari Indonesia, ingkang sampun misuwur loh djinawi saged sentosa lan kijat. Punika tjekak aosipun pidatonipun Saderek kita Lie Hoo Soen.

Terjemahan:

Saudara-saudara sekalian!
Telah dijelaskan oleh Saudara Lie Hoo Soen, maksud peringatan ini. Singkatnya, yakni turut memperingati penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, yang dipimpin oleh Bangsa Indonesia sendiri. Selain itu, juga turut memohon kepada Tuhan agar Negara Indonesia, yang telah mengalami banyak ujian berat, dapat dilindungi olehNya, sehingga lancar pembangunannya. Persatuan kita menjadi kuat, dijauhkan dari hambatan. Karena begitu kokohnya persatuan kita dalam menjalankan kewajiban, tentu hasilnya akan banyak. Negara Indonesia, yang telah tersohor akan kemakmurannya dapat hidup sentausa dan kuat. Demikianlah secara singkat isi pidato Saudara kita Lie Hoo Soen.


Sapunika Negari kita sampun merdeka. Awrat tanggel-djawat kita wiwit dinten punika. Revolutie sampun gantos dados evolutioe. Kalawan sakedik, ananging teratur, kita mbangun Negari kita. Sagedipun kita ambangun kalawan sae, manawi bangsa Indonesia saha warga Indonesia sanesipun insjaf lan mangertos saestu kewadjibanipun. Kita kedah aningalaken dateng Dunia Luar, manawi kita saged ngopeni kamerdekaan! Punika anggadahi teges, manawi kita saged ndjagi pijambak keamananipun Negari kita. Amargi keamanan, sadaja lumampah teratur! Sumber2 kangge ambangun katah. Ananging punapa sumber-sumber punika saged kita ginakaken kangge mbangun Negari, manawi kita kaum pekerdja taksih nggadahi djiwa-koloniaal? Ingkang dipun wastani djiwa koloniaal inggih punika, kirang akalipun utawi iniatiatievipun, njambut damel sapurun-purunipun, boten teratur.

Terjemahan:

Sekarang negara kita sudah merdeka. Berat tanggung jawab kita semenjak hari itu. Revolusi telah diganti menjadi evolusi. Meskipun sedikit, tetapi teratur, kita membangun negara kita. Kita akan sanggup membangun dengan baik, jika bangsa Indonesia dan warga Indonesia lainnya insyaf dan memahami kewajibannya dengan benar. Kita harus memperhatikan Dunia Luar, jika kita sanggup memelihara kemerdekaan! Itu mengandung ketegasan bahwa kita sanggup menjaga sendiri kemanan negeri kita. Karena adanya keamananlah, segalanya berjalan teratur! Sumber-sumber daya untuk membangun banyak jumlahnya. Namun apakah sumber-sumber tersebut dapat kita gunakan membangun negara, jika kita kaum pekerja masih mempunyai jiwa kolonial? Yang disebut jiwa kolonial yaitu kurang akal atau inisiatifnya, bekerja seenaknya sendiri, tidak teratur.


Salebetipun perdjoangan kamerdekaan tentara kita T.N.I kalijan pemuda-pemudanipun anggenipun nglabuhi Negari ngantos djiwanipun dipun korbanaken! Berkat korban2 punika kita merdika. Sapunika gantos kaum pekerdja ingkang ambanting tulang, tjantjut tali-wanda kangge pembangunan. Kita sebagai pemimpin para pekerja, sampun njontoni, kados pundi anglampahaken pedamelan kita miturut kekeluargaan. Kosok wangsulipun, kula suwun, sageda sampejan sedaja mangertos tudjuan kita. Manawi wonten ingkang dados pitaken nan perkawis padamelan, penghargaan utawi sanes-sanesipun sageda nglahiraken  dateng pemimpinipun, ingkang dipun anggep kados bapak sampejan sadaja.

Terjemahan:

Memasuki masa perjuangan kemerdekaan, tentara kita T.N.I bersama para pemuda dalam membela negara hingga mengorbankan jiwanya! Berkat korban-korban tersebut kita merdeka. Semenjak saat itu, giliran kaum pekerja yang membanting tulang, bekerja keras bagi pembangunan. Kita sebagai pemimpin para pekerja, telah memberi contoh, bagaimana menjalankan pekerjaan berdasarkan kekeluargaaan. Sebagai balasannya, saya meminta agar kalian semua dapat memahami tujuan kita. Apabila ada yang menjadi pertanyaan dan masalah dalam pekerjaan, penghargaan atau lainnya dapatlah menyampaikannya pada para pimpinan, yang dapat dianggap sebagai ayah kalian semua.

Salebetipun minggu punika ing ngriki nembe kedadosan ingkang njedihaken.
Makaten punika sageda sampun ngantos kedadosan malih, amargi sikap para pekerdja ingkang makaten wau nglingsemaken, njata manawi para sederek dereng mangertos kewadjibanipun sebagai pegawai Negara ingkang merdika. Ing mangira kita tansah ngatingalaken goodwill utawi pikadjeng ingkang sahe!
Manawi makaten  saladjengipun, kedah para saderek mangertos akibatipun!

1. Pabrik mboten saged mlampah. Kabetahan ra'jat boten saged dipun tjekapi.
2.Kawontenanipun ekonomis keluarga para pekerdja kotjar-katjir.
3. Dunia luar anggudjeng, amargi dipun reh dening bangsanipun pijambak, ekonomis lumpuh, amargi pemogokan.

Terjemahan:

Memasuki minggu ini baru saja terjadi hal menyedihkan.
Hal itu dapat terjadi kembali, karena sikap para pekerja yang lalai, secara nyata menunjukkan bahwa saudara sekalian belum memahami kewajibannya sebagai pegawai negara yang merdeka. Oleh karenanya, kita perlu memperlihatkan goodwill atau niat yang baik! Apabila seperti itu terus menerus, saudara-saudara sekalian akan memahami akibatnya!

1.Pabrik tidak dapat berjalan. Kebutuhan rakyat tidak sanggup dicukupi.
2. Kebutuhan ekonomi keluarga para pekerja akan morat marit.
3.Dunia luar akan menggunjingkan karena dicelakai oleh bangsanya sendiri, ekonomi menjadi lumpuh, karena pemogokan.

Ingkang punika kersaha para saderek menggalih. Sampun ngantos dening hawa nafsunipun pijambak saha kapikat dening asutan ingkang boten maton, sahingga para saderek lan nagari dados korban!
Sageda para saderek ambedakaken antawisipun ingkang sehat, saha ingkang boten!
Kita boten bade mbaguguk nguta waton, manawi punapa ingkang dipun pikadjengaken para saderek maton, amargi kita salebetipun kamerdekaan ngatur sadaja-sadajanipun miturut kakeluargaan. Sang Bapak boten bade damel tjilakanipun anak-anakipun.
Ingkang punika, para saderek kersaha ngrenungaken, kersaha manggalih ingkang lebet, sebagai pekerdja utawi berah, nglampahaken kewadjinipun sebagai:

1. Pembangun Negara
2. Bapak keluarga

Terjemahan:

Oleh karenanya, harap saudara-saudara bersedia menerimanya. Karena hawa nafsunya sendiri terpikat oleh hasutan yang tidak patut, sehingga saudara-saudara dan negara yang menjadi korban!
Harap saudara-saudara sekalian membedakan antara yang sehat dan tidak!
Kita tidak akan bersikeras tidak memperkenankan, apabila yang diharapkan saudara-saudara sekalian itu sesuatu yang patut, karena setelah memasuki kemerdekaan kita mengatur seluruhnya berdasarkan kekeluargaan. Sang Bapak tidak akan mencelakai anak-anaknya.
Oleh karenanya, saudara-saudara sekalian harap bersedia merenungkan, harap bersedia menerima yang masuk akal, sebagai pekerja atau buruh, menjalankan kewajibannya sebagai:

1. Pembangun negara
2.Bapak keluarga

Sageda para pekerdja Pabrik Redjoagung, sebagai petjinta bangsa, nglampahaken kewadjibanipun miturut rail ingkang lurus, sehingga saged dipun pameraken dateng sanes-sanesanipun minangka tjonto. Punika ingkang dados idam-idamanipun kita sebagai pemimpin, sebagai Bapakipun para saderek sadaja. Minangka penutup kula adjengaken andjuran punika:

Terjemahan:

Para pekerja Pabrik Rejoagung agar bersedia, sebagai pecinta bangsa, menjalankan kewajibannya menurut rel yang lurus, sehingga dapat diperlihatkan kepada yang lain-lainnya sebagai teladan. Demikianlah yang menjadi harapan kami sebagai pemimpin, sebagai Bapak saudara-saudara sekalian. Sebagai penutup saya akan utarakan anjuran tersebut:

Bangun, bangun, bangun!
Marilah kita menjusun,
Tenaga pekerdja segiat-giatnja
Bagi kesedjahteraan Indonesia-Merdeka.
Apakah kehendak Ibu Pertiwi?
Ta' lain ta' bukan, dengan diciplin berbakti.
Ribuan telah mendjadi korban.
Didalam perdjoangan kemerdekaan.
Para pekerdja berdosa,
Djika ta' merobah sikap dan djiwa.
Tunduk pada asutan jang ta' sehat,
Ta' mempedulikan, Negara harus madju pesat.


Kembali lagi kepada bahgasa Indonesia dengan sjair ini, maka sekali lagi, saja harap-harapkan, dapatnja pertemuan peringatan penjerahan kedaulatan pada hari ini, memberi djiwa baru kepada kita semua. Djiwa jang djauh dari pengaruh pendjadjahan, djiwa jang menudju sehatnja Negara Indonesia, jang ibaratnja djabang baji jang baru lahir, hilang dari sawan-sawannja, mendjelma kemudian mendjadi pemuda gagah perkasa.

Sekianlah

Liem Ghik Djien

Artikel-artikel menarik lainnya silakan bergabung dengan: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

Jumat, 05 Desember 2014

MENGAPA KUCING INI SELALU BERUNTUNG DAN MENDATANGKAN KEBERUNTUNGAN?

MENGAPA KUCING INI SELALU BERUNTUNG DAN MENDATANGKAN KEBERUNTUNGAN?


Ivan Taniputera
6 Desember 2014



 .
Selamat siang, para pembaca sekalian di mana pun berada. Saya menemukan gambar patung kucing yang lucu ini. Konon bagi yang meyakininya patung kucing ini dapat mendatangkan keberuntungan. Karena kucing ini dipercayai dapat mendatangkan keberuntungan, maka tentu saja kucing ini secara logika juga harus selalu beruntung, bukan? Jika tidak beruntung, bagaimana ia dapat mendatangkan keberuntungan?
Pada hari Sabtu ini marilah kita merenungkan, mengapa kucing ini selalu beruntung dan dapat mendatangkan keberuntungan bagi mereka yang ada di sekitarnya?


Penyebab utama, mengapa kucing itu selalu beruntung dan mendatangkan keberuntungan adalah karena ia selalu tersenyum. Sang Keberuntungan suka pada senyuman. Sang Keberuntungan tidak suka pada mereka yang berwajah cemberut atau menatap dengan kebencian. Sang Keberuntungan tentu akan berkata pada dirinya sendiri, "Ah, lihat orang itu cemberut wajahnya dan matanya penuh kebencian. Tentu ia juga tidak suka pada saya. Jadi saya tidak usah datang padanya. Lihat orang itu wajahnya berbahagia dan selalu tersenyum. Tentu ia berbahagia melihat saya dan tersenyum padaku. Ia menyukaiku, jadi biarlah saya datang padanya." Jelas sekali bahwa Keberuntungan hanya mau hadir pada mereka yang tersenyum. Demikianlah penyebab utama mengapa kucing itu selalu beruntung.

Selanjutnya kita menyaksikan bahwa patung kucing itu membawa kertas bertuliskan Ruyi (如意), yang artinya adalah "Terjadi sesuai kehendak." Kucing tersebut selalu optimis bahwa visi dan misinya pasti akan tercapai. Ia tidak akan mudah putus asa dan terjerumus ke dalam pesimisme. Selain itu, ia juga berharap agar orang lain juga tercapai kehendaknya. Tentu saja, kehendak di sini adalah kehendak yang baik dan wajar. Setiap orang ingin bahagia dalam artian sejahtera lahir dan batin. Oleh karena itu, ia senantiasa berharap agar "semua makhluk dalam keadaan sejahtera." Demikanlah penyebab kedua, mengapa kucing itu selalu beruntung.

Patung kucing itu juga membawa patung kucing kecil lain yang bertuliskan Cai (財). Artinya adalah "rejeki." Rejeki di sini bukan hanya untuk sang kucing sendiri saja. Ia bersedia berbagi rejeki. Sambil berbagi pun ia masih tetap tersenyum. Oleh karenanya, patung kucing tersebut hendak mengajarkan bahwa beramal juga merupakan sumber keberuntungan. Beramal jangan dilihat dari jumlahnya, namun dari kerelaan hati. Anda hanya rela menyumbang seratus Rupiah, tidak masalah. Dua ratus rupiah? Tidak juga masalah. Berapa saja yang penting dengan kerelaan hati.

Keempat senyuman sang kucing juga dimaksudkan karena ia turut bersuka cita atas segenap kebaikan hati yang dilakukan orang lain. Itulah karenanya ia selalu tersenyum. Meskipun kebaikan hati itu bukan kita yang melakukan sendiri, namun kita tetap dapat berbahagia karenanya. Ada orang yang iri hati atau memendam kedengkian atas kebaikan hati yang dilakukan orang lain. Tentu saja ini adalah sumber ketidak-beruntungan. Dengan berbahagia atas kebaikan atau kemurahan hati yang dilakukan orang lain, maka kita juga turut menuai keberuntungan bagi diri sendiri dan orang lain.

Yang kelima dan terakhir, patung kucing tersebut membawa botol yang terbuat dari labu. Konon itu adalah botol labu wasiat yang dapat menampung seluruh alam semesta. Oleh karena itu, kita juga harus siap menampung segenap wawasan. Jangan berpandangan sempit. Pandangan sempit justru akan mengusir segenap keberuntungan. Pandangan atau wawasan kita adalah ibaratnya pintu masuk bagi Keberuntungan. Jika pintunya terlalu sempit, maka Sang Keberuntungan akan enggan masuk.

Sudahkah kita tersenyum hari ini?

Semoga bermanfaat.

Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Fengshui, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, petuah kehidupan, metafisika, dan lain-lain silakan kunjungi:



Jumat, 28 November 2014

SERIAL PAHLAWAN KEMANUSIAAN 1 (MEREKA YANG BERANI BERKATA YA PADA KEBENARAN DAN BERKATA TIDAK PADA KEJAHATAN): SOPHIE SCHOLL

SERIAL PAHLAWAN KEMANUSIAAN 1 (MEREKA YANG BERANI BERKATA YA PADA KEBENARAN DAN BERKATA TIDAK PADA KEJAHATAN): SOPHIE SCHOLL

Ivan Taniputera
27 November 2014



Sumber gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/Sophie_Scholl#mediaviewer/File:Sophie_Scholl_portrait.jpg

Pada serial perdana Pahlawan Kemanusiaan kali ini kita akan berupaya mengenal Sophie Scholl (9 Mei 1921-22 Februari 1943) secara ringkas. Masa mudanya dihabiskan di tengah-tengah kekejaman rezim Nazi. Berdasarkan surat-surat dari kekasihnya, Fritz Hartnagel, seorang anggota pasukan Jerman yang ditugaskan di Front Timur, ia mengetahui kekejaman pasukan Jerman di Front Timur terhadap penduduk sipil setempat dan orang-orang Yahudi. Kenyataan-kenyataan tersebut menimbulkan pengaruh besar dalam diri Sophie Scholl. Ia menyadari betapa kejamnya peperangan dan rezim yang mencetuskannya. Peperangan hanya mengakibatkan penderitaan bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya

Pada tahun 1942, Sophie Scholl bersama beberapa orang lainnya membentuk perkumpulan Die Weisse Rosse (Mawar Putih), tujuannya adalah menentang perang dan kekejaman rezim Nazi. Mereka adalah Hans Scholl (saudara Sophie), Wili Graf, dan Christoph Probst. Pada masa berkuasanya rezim Nazi, tindakan tersebut dapat dianggap sebagai pengkhianatan dan terancam hukuman mati. Mereka kemudian menulis pamflet anti peperangan dan membagikannya di Universitas Muenchen. Isi pamflet tersebut adalah mengajak rakyat Jerman melakukan perlawanan pasif dan tanpa kekerasan terhadap rezim Nazi. Tindakan mereka tersebut tercium oleh penguasa dan Sophie beserta saudara dan kawan-kawannya ditangkap pada tanggal 18 Februari 1943.

Mereka dihadapkan pada pengadilan pada tanggal 22 Februari 1943 dan pada saat itu Sophie Scholl mengatakan:

"Bagaimanapun juga seseorang harus memulainya. Apa yang kami tulis dan katakan juga diyakini oleh orang-orang lainnya. Hanya saja mereka tidak berani mengungkapkannya seperti kami."

Pada hari itu, mereka dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal. Eksekusi dilakukan pada pukul 17:00 dan saksi mata meriwayatkan keberanian Sophie Scholl waktu melangkah menuju tempat pemenggalan. Ia mengucapkan kata-kata terakhirnya sebagai berikut:

"Bagaimana kita mengharapkan kebenaran akan bertahan jikalau tiada seorang pun yang bersedia mengorbankan dirinya demi kebenaran. Pada hari yang indah dan cerah ini aku harus pergi, tapi apakah arti kematianku, jika melalui kami, ribuan orang tersadar dan tergerak mengambil tindakan?"

Sophie Scholl berani mengorbankan dirinya untuk kebenaran dan kemanusiaan. Ia tidak menyayangkan kehidupannya sendiri. Kejahatan dapat merajalela jika "orang-orang baik" diam saja. Saya sendiri mungkin tidak mempunyai keberanian seperti Sophie Scholl dan kawan-kawannya. Namun pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak para pembaca mengenal perjuangan Sophie Scholl dan mengenang kembali tindakan kepahlawanan tersebut. Di saat satu orang baik berani maju ke depan, maka orang-orang akan terinsipirasi dan maju mengikuti. Di tengah-tengah kegelapan pekat tanpa cahaya, maka jika ada satu orang saja yang menyalakan cahaya, maka cahaya-cahaya lainnya akan bermunculan.

Semoga bermanfaat.

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Sophie_Scholl

Jumat, 21 November 2014

KISAH KENAIKAN HARGA BBM DI NEGERI ANTAH BERANTAH

KISAH KENAIKAN HARGA BBM DI NEGERI ANTAH BERANTAH

Ivan Taniputera
22 November 2014


Alkisah saya baru saja berwisata ke Negeri Antah Berantah.  Pemimpin Baru di Negeri Antah Berantah menaikkan harga BBM. Sewaktu sedang berada di sana, saya sempat menguping obrolan para warga mengenai hal tersebut saat sedang minum di sebuah warung kopi sederhana. Saya ingin saja bergabung dengan obrolan mereka, namun saya urungkan, karena saya murni ingin mendengarkan pandangan dan aspirasi mereka. Seorang pemuda berpenampilan sederhana, sebut saja A berkata, "Bagi saya dampak yang paling terasa adalah saya harus merogoh saku saya lebih dalam lagi. Kini saat harus mengisi kendaraan saya dengan BBM, saya harus membayar lebih mahal." Salah seorang pemuda lain dengan penampilan intelektual, sebut saja bernama B, menimpali, "Ya tentu saja itu semua kita tahu. Sayangnya gaji tidak langsung naik."

Seorang pria yang berusia setengah baya, sebut saja Pak C, menukas, "Masalah kenaikan BBM ini adalah masalah pelik semenjak dahulu. Saat aku masih muda, sudah beberapa kali terjadi kenaikan dan selalu saja terjadi antrian panjang beberapa saat sebelum BBM resmi dinaikkan. Ini adalah lagu lama yang terus menerus diputar."

B berkata kembali, "Mungkin topik  menarik pertama yang dapat kita bahas adalah alasan atau pembenaran kenaikan harga BBM tersebut sebagaimana dilontarkan Pemimpin Baru beserta para pengikutnya. Cara pembenaran pertama adalah mengatakan subsidi itu salah sasaran. Sementara ini  selalu dikatakan bahwa "kelas mampu" yang menikmatinya. Di sini, menurut saya, Pemimpin Baru dan juga Pemimpin-pemimpin Lama yang dahulu juga memutar terus lagu lama (meminjam istilah Bapak C), yakni memecah belah masyarakat menjadi dua kategori "semu" yaitu "kelas mampu" dan "kelas tidak mampu." 

Pemecah belahan ini dilakukan demi mencari pembenaran semata. Saya sebut "semu" karena tidak pernah jelas apa itu definisi kelas "mampu" dan "tidak mampu." Tidak ada perbedaan se-rigid atau sekokoh itu dalam masyarakat. Yang ada adalah suatu spektrum. Tidak ada pembagian dualitas yang nyata seperti hitam dan putih dengan batasan jelas terkait hal itu. Ini adalah permasalahan pertama dari pembenaran yang dilakukan oleh para Pemimpin."
Seorang wanita berusia sekitar 30-an yang dari tadi membolak balik halaman surat kabar, sebut saja Kakak D, tiba-tiba menukas, "Mungkin yang dimaksud dengan kelas mampu adalah mereka yang sanggup membeli atau mengendarai kendaraan bermotor?"

Bapak C menjawab, "Terhadap pandangan demikian, saya akan menjawabnya sebagai berikut. Kalaupun didefinisikan bahwa pemilik kendaraan bermotor sebagai mampu dan bukan pemilik kendaraan bermotor sebagai tidak mampu, maka pandangan itu pun juga mempunyai permasalahannya pula. Kita dapat dengan mudah melontarkan kritik padanya. Jika direnungkan maka kaum pemilik kendaraan bermotor (dalam hal ini didefinisikan sebagai kaum mampu) juga merupakan aspek penting bagi pergerakan ekonomi Negeri Antah Berantah ini. Mereka mungkin menyediakan lapangan pekerjaan dan lain sebagainya. Tentu saja, kita tidak mengecilkan atau merendahkan arti mereka yang tidak memiliki kendaraan bermotor. Namun menurut pengamatan saya, harga kendaraan bermotor sudah sangat terjangkau. Hampir setiap orang sanggup memiliki kendaraan bermotor. Jadi karena kaum pemilik kendaraan bermotor juga berjasa terhadap Negeri Antah Berantah ini, maka mereka seharusnya juga berhak atas subsidi tersebut. Tidak ada alasan menyebut subsidi tersebut salah sasaran. Mengatakan subsidi itu salah sasaran tentunya merupakan "penghinaan" bagi mereka yang memiliki kendaraan bermotor tersebut. Karena dengan kendaraan bermotor tersebut mereka turut berperan serta menggerakkan roda perekonomian di Negara Antah Berantah. Saya tidak membela pihak mana pun. Namun kita letakkan masalah ini secara adil."


Kini giliran A sudah tidak sabar angkat bicara, "Tetapi, bukankah subsidi itu bisa dialihkan pada masyarakat "tidak mampu," yang taruhlah didefinisikan sebagai mereka dengan penghasilan sekian..sekian. Mungkin mereka yang penghasilannya pas-pasan. Uang sekolah anaknya sering menunggak. Untuk berobat tidak punya biaya. Mungkin bisa dipakai untuk membangun jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, dan lain-lain. Bahkan katanya masyarakat "tidak mampu" (dengan definisi penghasilan dibawah sekian nominal tertentu) akan diberi bantuan langsung berupa uang."

B menjawab, "Benar. Itu adalah gagasan yang baik. Tidak ada yang salah dengan ide seperti itu. Bahkan kita boleh menyebutnya sesuatu yang mulia. Akan tetapi saya sudah pernah mendengar gagasan itu semenjak zaman Pemimpin-pemimpin Lama dahulu. Lagi-lagi ini merupakan lagu lama. Masalahnya BBM sudah dinaikkan berulang kali (artinya subsidi sudah dicabut atau dikurangi secara bertahap dari dulu) dan pada kenyataannya sampai sekarang pendidikan juga tetap mahal. Selain itu, saya tidak merasakan ada peningkatan yang signifikan di Negeri Antah Berantah yang kita cintai ini. Bahkan menurut saya pemberian bantuan langsung tidak mendidik. Yang terbaik adalah menciptakan lapangan pekerjaan atau menggerakkan roda perekonomian sebesar-besarnya (sesuatu yang sedikit banyak sudah dilakukan oleh kaum "mampu" di negeri ini)."

Seorang Ibu-ibu yang nampaknya pemilik warung kopi, sebut saja ibu D, tiba-tiba berbicara, "Mungkin akarnya masalah korupsi ya, sehingga pengalihan subsidi itu tidak menghasilkan sesuatu perubahan signifikan?"


Bapak C menjawab, "Ya memang kita mengetahui bahwa korupsi juga menjadi masalah utama yang tidak kunjung terselesaikan di Negeri Antah Berantah ini. Kalau demikian, lebih baik Para Pemimpin menyalahkan korupsi dan bukan mencari pembenaran dengan menciptakan "perpecahan semu" antara kaum "mampu" dan "tidak mampu." Padahal telah kita uraikan bahwa pembagian masyarakat yang rigid seperti itu tidak ada. Kalau pun mau diada-adakan (dengan definisi seperti di atas), maka bukan berarti mereka tidak berhak atas subsidi, karena mereka suka atau tidak suka telah memberikan sumbangsih menggerakkan roda perekonomian di Negeri Antah Berantah. Korupsi adalah masalah lain lagi. Kalau korupsi tidak dapat atau gagal diberantas, maka jangan mencari kambing hitam lain di Negeri Antah Berantah ini."

Seorang pemuda di pojok ruangan, sebut saja bernama E, yang dari tadi diam saja mulai bicara, "Bahkan di antara sesama pemilik kendaraan bermotor dihembuskan pembedaan antara roda dua dan roda empat. Bagaimana pendapat kawan-kawan di sini?"

A menjawab, "Hmmm jadi yang naik roda dua (karena konon harganya lebih rendah dibanding roda empat) dianggap tidak "mampu," sedangkan yang naik roda empat (karena konon harganya lebih tinggi dibanding roda dua) dianggap "tidak mampu." Jadi roda dua berhak dapat subsidi, sedangkan roda empat tidak. Apakah begitu?"

B menukas, "Ya benar. Nampaknya demikian yang dimaksud sebagai salah satu wacana yang pernah didengungkan di Negeri Antah Berantah ini. Namun masalahnya adalah harga roda dua dan roda empat itu pun juga adalah sebuah spektrum, yang bahkan tumpang tindih. Ada kalanya harga roda dua yang paling mahal adalah kemungkinan sama dengan harga roda empat keluaran lama. Roda dua dan roda empat itu tidak dapat menciptakan batasan rigid antara "mampu" dan "tidak mampu." Pembedaan atau pemecah-belahan berdasarkan "jumlah roda" ini pun adalah sesuatu yang semu sifatnya."

Bapak C menambahkan, "Tetapi jangan lupa, bahwa diujung spektrum itu terdapat roda empat yang harganya memang sangat tinggi. Katakanlah roda-roda empat merk terkenal keluaran negara-negara adi-teknologi. Harganya memang sangat mahal. Dalam hal ini saya setuju bahwa roda empat semacam itu memang seharusnya "minum" BBM tidak bersubsidi, karena memang spesifikasinya demikian. Demi menjaga kualitas mesinnya. Pemilik roda empat mewah yang pintar dan tahu masalah mesin, tentunya tidak akan memilih BBM bersubsidi. Ini terutama demi kepentingannya sendiri bukan orang lain. Selain itu, ia juga telah beramal, yakni memberikan kesempatan para pemiliki roda empat dan juga roda dua yang tidak mewah agar dapat menikmati BBM tidak bersubsidi. Ini adalah masalah kesadaran semata yang harus terus dihembuskan. Para pemilik showroom di negara ini juga harus memberikan wawasan tersebut."

E menambahkan, "Ya benar saya setuju, saya pernah bekerja sebagai tenaga penjualan roda empat keluaran negara adi-teknologi, memang spesifikasinya roda empat tersebut harus "minum" BBM dengan oktan tinggi. Jika diberi "minum" oktan lebih rendah, akan berdampak pada mesin. Tetapi saya ada satu kasus begini. Seorang pemilik roda empat mewah sudah memberikan uang untuk membeli BBM tidak bersubsidi pada pengemudi yang dipercaya membawa roda empat tersebut. Namun demi mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri, ia justru membelanjakannya untuk BBM bersubsidi. Keuntungan itu lantas diambil ke kantungnya sendiri. Kecurangan itu akhirnya terbongkar, tetapi pemilik masih berbaik hati dan tidak memecat pengemudinya itu. Hanya saja sekarang harus meminta nota pembelian dari tempat pembelian BBM bersangkutan. Ini adalah masalah kecurangan yang mungkin saja banyak terjadi di tengah masyarakat."

A berkata, "Masih ada lagi yang mengatakan bahwa kenaikan harga BBM ini untuk memukul para penyelundup BBM dari Negeri Antah Berantah ke Negeri Atas Angin. Nampaknya langkah ini efektif. Bagus sekali jika para penyelundup itu dibuat rugi sehingga bangkrut."

Bapak C segera menjawab, "Saya mengakui bahwa penyelundupan itu memang ada. Namun mengapa karena kesalahan segelintir orang saja lalu ratusan juta orang lainnya yang harus menanggungnya? Ini adalah sesuatu yang tidak adil. Segelintir orang berbuat salah (yang seolah-olah tidak terjangkau hukum), namun tiba-tiba ratusan juta orang lain harus turut memikul akibatnya. Menurut saya seharusnya para penyelundup dan penimbun itu harus ditangkapi dan diadili terlebih dahulu. Kalau perlu dihadapkan ke depan regu tembak. Pemimpin pertama kita pernah menjanjikan hal itu bagi para penimbun dan penyelundup. Jadi masalah penyelundupan ini harus diselesaikan terlebih dahulu, bukannya dengan alasan menghantam para penyelundup lalu BBM dinaikkan. Rakyat jua lah yang menderita. Sementara itu, setelah BBM naik pun mereka masih dapat menikmati kekayaan yang diperolehnya dari penyelundupan selama berpuluh-puluh tahun di Negeri Antah Berantah ini."

E menambahkan  kembali, "Ada juga yang mengemukakan bahwa cadangan minyak bumi di Negeri Antah Berantah ini sudah menipis, sehingga Pemimpin Negeri Antah Berantah harus bergantung murni pada impor BBM. Itulah sebabnya dikatakan bahwa pembelian BBM dari luar ini membebani kas Negeri Antah Berantah. Itulah satu lagi alasan Pemimpin Baru menaikkan harga BBM."

Kini giliran B yang mencoba memberikan pandangannya, "Jika ini benar, maka ini adalah satu-satunya alasan yang masuk akal menaikkan harga BBM. Pemimpin Baru perlu memberikan penjelasan bagi hal ini. Kalau memang demikian halnya maka mau apa lagi? Namun sekali lagi, Pemimpin Baru dan pengikutnya perlu mengemukakan hal ini dengan jelas bagi rakyat. Jika perlu dengan data-data yang transparan. Ibaratnya seorang ayah yang usahanya sedang mengalami kemerosotan. Ia memberitahu hal itu secara baik-baik pada anak-anaknya. Marilah kita sekarang hidup lebih hemat. Makan yang secukupnya saja jangan berlebihan. Bukannya memecah belah anak-anaknya dengan mengatakan, "Ini gara-gara kakak tertua yang gendut makan lebih banyak" dan lain sebagainya. Itu bukan hal yang membangun. Ingat bahwa seluruh rakyat adalah ibaratnya anak bagi sang Pemimpin. Janganlah seorang ayah membeda-bedakan masing-masing anaknya. Apalagi memecah belah mereka."

Bapak C menjawab, "Memang menyedihkan bahwa Negara Antah Berantah ini sudah dirampok sekian ratus tahun kekayaan alamnya pada masa kolonialisme. Buku-buku tua warisan kakek saya yang masih berbahasa penjajah dengan jelas memaparkan hal ini. Eksplorasi dan penjarahan kekayaan alam negeri ini sudah berlangsung semenjak zaman penjajahan. Setelah Negeri Antah Berantah merdeka, maka itu pun masih dilanjutkan oleh perusahaan-perusahaan Negeri Atas Angin. Suatu bentuk kolonialisme dengan wajah baru. Kini ia telah terbaring kering dan renta. Cadangan minyaknya tinggal sedikit (jika itu benar). Kekayaan alamnya tinggal sedikit. Sungguh menyedihkan. Semoga Pemimpin Baru sadar dan jangan sampai mengundang para kolonialis berwajah baru ini masuk. Segenap persyaratan harus dipertimbangkan sehingga akhirnya Negeri Antah Berantah ini yang mendapatkan lebih banyak keberuntungan."

A menjawab, "Saya setuju bahwa kita memang harus berhemat. Kemarin saya melihat ada orang yang malas keluar dari mobil dan menyalakan mesin mobil sambil menghidupkan AC-nya selama berjam-jam. Itu adalah suatu pemborosan yang sia-sia. Kebiasaan seperti inilah yang harus kita ubah. Mungkin manajemen tempat-tempat hiburan dan pusat perbelanjaan perlu mengeluarkan peraturan agar hal seperti itu tidak boleh dilakukan di lingkungan tempat hiburan dan pusat perbelanjaan mereka. Ini adalah salah satu langkah penghematan menuju Negeri Antah Berantah yang lebih baik. Penghematan itulah kunci yang terbaik dalam mengatasi berbagai permasalahan."

Saya melihat ke jam tangan saya. Hari rupanya sudah semakin siang. Saya tidak bisa lagi terus menerus mengikuti obrolan mereka. Saya harus meneruskan perjalanan saya menikmati keindahan Negeri Antah Berantah ini. Tentunya dengan biaya transportasi yang lebih mahal, karena BBM di negeri ini baru saja naik. Namun hal tersebut tidak mengurungkan niat saya menjelajahi Negeri Antah Berantah ini.


TAMAT