Senin, 25 Mei 2015

SUMUR TUA KOTA LAMA, SEKELUMIT PENINGGALAN SEJARAH DARI SEMARANG

SUMUR TUA KOTA LAMA, SEKELUMIT PENINGGALAN SEJARAH DARI SEMARANG

Ivan Taniputera.
24 Mei 2015




Ini sekelumit peninggalan sejarah dari Semarang. Sumur tua ini terletak di kawasan Kota Tua, Semarang. Konon menurut penuturan warga sekitar sudah ada semenjak zaman Belanda. Disebutkan pula bahwa sumur ini tidak pernah kering, meski sudah disedot airnya untuk mobil pemadam kebakaran.

Sabtu, 23 Mei 2015

LAGI-LAGI ADA YANG PALSU

LAGI-LAGI ADA YANG PALSU


Ivan Taniputera.
23 Mei 2015





Kejamnya dikau
Kau palsukan berasku
Kau racuni diriku
Membunuh pelan-pelan
Sadis tiada kata lain
Kau campurkan plastik beracun
Kau bahayakan sesamamu
Tiadakah sedikit rasa iba dalam hati bersemu?
Mencelakakan sesama tanpa galau?
Ah sungguh tercengang ku mengetahuinya
Entah apa tujuanmu
Memakan beras palsu orang meregang nyawa
Oh Pak Presiden!
Oh Pak dan Bu Menteri!
Oh Pak dan Bu Gubernur!
Oh Pak dan Bu Polisi!
Dan semua yang berwenang
Mohon kejarlah pelakunya
Selidiki sampai tuntas
Sampai akar-akarnya perlu diberantas
Hingga kita terbebas dari beras palsu yang laknat
Keresahan sungguh penat.

SUARA-SUARA DARI PADANG KESUNYIAN

SUARA-SUARA DARI PADANG KESUNYIAN

Ivan Taniputera
23 Mei 2015

Alunan senyap sepi
Menari-nari di atas padang tanpa kata
Tiada jeda menjaring angin sunyi
Menerpa sukma menepis makna
Menghinggapi irama sari
Daun-daun turut meluruh nirkala
Bisik-bisik dari relung sanubari
Tak terucap berupa getar suara
Terus bergaung dalam lembah sunyi
Bergulung-gulung di atas padang semesta
Kapankan kesunyian itu pergi?
Ke manakah ia hendak beranjang sana?
Apakah hal itu engkau mengetahui?

Sabtu, 09 Mei 2015

JAM ITU TERUS BERPUTAR

JAM ITU TERUS BERPUTAR


Ivan Taniputera
9 Mei 2015




Jam terus berputar
Seiring kehidupan berdenyar
Urusan lama sebentar
Berjalan tanpa ingkar

Jam irama kehidupan semesta
Berdetik penuh ritma
Membagi waktu tanpa jeda
Detik menit jam itulah dia

Waktu itu dibagi-bagi
Dipotong tanpa kompromi
Menjadi satuan satuan semu lagi
Sungguh rupakan alienasi

Sesungguhnya wahai kawan
Waktu itu bagai air beraliran
Tiada dapat ia dicencang-cencang
Tidak terputus melaju kencang

Pembagian waktu cuma ilusi
Waktu sekarang dan tadi
Sebenarnya adalah satu inti
Aliran waktu nan abadi

Sekarang mendatang dan tadi
Adalah tunggal batang diri
Satu tubuh waktu tanpa henti
Mengapa engkau bingung sendiri?

Selamat mengisi waktu dengan baik wahai para sobatku.

Selasa, 07 April 2015

BELALANG SAMA BELALANG

BELALANG SAMA BELALANG

Ivan Taniputera
7 April 2015

Inilah kisah dari negeri belalang
tak pernah tenang
para belalang sana sini beterbang terbang
tak bisa akur saling serang

Belalang sesama belalang bangkit perang
Tak mau rukun selalu mengasah parang
Musuhnya adalah sesama belalang
Belalang benci sesama belalang


Tak mau berhenti saling berang
Ada kesempatan selalu adu pedang
Permusuhan antar belalang tak pernah kurang
Saling hajar saling hadang


Astaga sungguh tak dirancang rancang
Burung pemakan belalang berdiri senang
Menatap para belalang dengan girang
Jantung sampai berdegup kencang

Para belalang tak sadar ada mengintai datang
Bahaya sudah pasti akan menjelang
Tetapi mereka malah sibuk saling menantang
Tidak peduli nasib sudah petang

Lalu terkapar para belalang
Luka luka sambil mengerang-erang
Yang mati tiada terbilang
Aduh sekarang siapa yang senang

Burung pemakan belakang terbang melayang
Disambar yang sudah lemah di pematang
Belalang menjadi mangsa burung tiada terbilang
Karena bermusuhan dengan sesama maka jiwa hilang

Wahai sahabatku tersayang
Janganlah dikau tiru para belalang
Dengan sesama harus saling kasih sayang
Janganlah mau diri sendiri menang

Musuh itu selalu membayang
Kalau dengan sesama kau berperang
Sudah tentu musuh bakal girang bukan kepalang
Mending kau bersatu padu lengket bagai jenang.

Minggu, 29 Maret 2015

UN: KISAH SABUN DAN LANUN

UN: KISAH SABUN DAN LANUN
.
Ivan Taniputera
30 Maret 2015
.


Gudang sabun tua dekat stasiun
Penjaga gudang si pak tua duduk termanyun-manyun
Di kota tua sepi tiada berpenghuni hanya pak tua yang ada satupun
Tahun demi tahun pak tua jagai sabun bersusun-susun
hanya duduk sambil tertegun-tegun
Pada suatu hari suatu bulan suatu tahun
Kapal para lanun labuh di kota tua berduyun-duyun
Para lanun di kapal turun berayun-ayun
Kota tua sepi apa mau dilanun?
Hanya gudang sabun tua berdiri tertegun
Daripada tiada yang dilanun
Lumayan juga dapat sabun berapapun
Siapa tahu dijual bisa dapat uang serumpun
Lanun dekati gudang sabun cabut pedang tanpa ampun
Pak tua tiada mau menyerah bagaimanapun
Ambil senapan tua dalam lemari lama terhimpun
Bidik lanun suaranya "pun..pun...pun...pun...pun."
Pun....pun....pun....pun...pun.
Para lanun jatuh kaget tertegun-tegun
Pak tua masih handal main senjata meski sudah lanjut usia begitu pun
Lanun lari kembali ke kapal kapok tidak berani lagi melanun
Terselamatkanlah gudang sabun
Dan pak tua kembali duduk melamun.


Catatan: lanun = bajak laut atau perompak.

Sabtu, 28 Maret 2015

KATA-KATA ANGIN

KATA-KATA ANGIN

Ivan Taniputera
28 Maret 2015


Angin berdesir
Menabur alam kata-kata
Senandung debu dan pasir
Mengalun terbata-bata

Angin mengalir
Di tengah-tengah senja lembayung
Menari dari hulu ke hilir
Menghalau mendung

Angin bergulir
Menyampaikan suara lembut
Membelai sejuk semilir
Air mengalir hanyut

Angin hadir di tengah relung senja
Sampaikan pesona sejuk jiwa
Disambut para lebah pekerja
Yang beriringan di rawa-rawa

Angin menerpa kepala
Kupu-kupu sedang bercengkerama
Di atas puncak nyiur kelapa
Melambai begitu lama.

Angin akan selalu berkelana
Setiap hari demi hari
Esok kan senantiasa kembali
Bawa cerita dan kabar baru