Sabtu, 29 September 2012

Teka Teki Matematika: 64 = 65?


Teka Teki Matematika: 64 = 65?

Ivan Taniputera
29 09 2012




Perhatikan gambar di atas, yang terdiri dari dua segitiga dan dua trapesium yang disusun membentuk persegi dengan luas 64 satuan luas (8 x 8). Namun jika menyusunnya ulang seperti gambar di bawahnya (menjadi persegi panjang), maka luasnya akan menjadi 65 satuan luas (13 x 5). Bagaimana hal itu dapat terjadi? Padahal baik persegi maupun persegi panjang terbentuk dari segitiga dan trapesium yang sama. Silakan dipecahkan.

JAWABAN:

Teka-teki di atas sebenarnya adalah tipuan gambar. Untuk jelasnya silakan perhatikan gambar di bawah ini.




Jawabannya adalah garis AC pada gambar 1 bukanlah garis lurus. Buktinya kita akan menggunakan trigonometri. Sebelumnya kita akan menghitung panjang AC terlebih dahulu. Berdasarkan teorema Phytagoras maka panjang AC adalah akar dari AB kuadrat ditambah BC kuadrat, atau akar 73. Kita bulatkan menjadi 8,54 satuan panjang. Sinus sudut ACB adalah 3/8,54, atau 0,35.
Kita beralih ke gambar 2.  Segitiga CEH seharusnya sebangun dengan Segitiga EDC. Oleh karenanya, Sinus sudut ECD harus sama dengan Cosinus sudut ACB. Kita harus mencari panjang EC terlebih dahulu, yakni 13,93 satuan panjang. Sinusnya adalah 5/13,93 atau 0,36. Jadi karena sinus tidak sama, maka sesungguhnya kedua segitiga itu tidak sebangun. Jadi dapat disimpulkan bahwa sisi miringnya bukan garis lurus.

Bukti lain adalah, jika benar kedua segitiga sebangun, maka berlaku:

AB/DE = BC/CD = AC/CE
.
Ternyata:
AB/DE = 3/5 = 0,6
BC/CD = 8/13 = 0,62
AC/CE = 0.61.
.
Meski perbedaannya kecil, namun kedua segitiga ini bukan sebangun.

Bagaimana Mewujudkan Kesuksesan Dalam Studi?

Bagaimana Mewujudkan Kesuksesan Dalam Studi

Ivan Taniputera
29 September 2012

[Aslinya merupakan artikel lama tertanggal 24 Agustus 2007]

Setiap orang tentunya ingin meraih kesukesan, termasuk dalam hal studi. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan beberapa kiat guna mencapai kesuksesan dalam studi.

KIAT PERTAMA: Memilih bidang yang sesuai.

Kebanyakan anak bila ditanya mengenai cita-citanya akan menjawab bahwa mereka kelak ingin menjadi dokter dan insinyur. Umumnya cita-cita ini berasal dari orang tua mereka sendiri dengan didasari anggapan atau persepsi bahwa kedua profesi itu sangat bergengsi serta mendatangkan banyak uang. Namun permasalahannya, tidak setiap orang cocok menjadi dokter ataupun insinyur. Bila dipaksakan, pemilihan bidang studi yang tak sesuai dengan bakat serta minat seseorang berpotensi menimbulkan kegagalan. Jikalau berhasil lulus sekalipun, belum tentu ia akan sanggup menjadi dokter atau insinyur handal. Dalam kehidupan sehari-hari, kita justru banyak menjumpai banyak profesi-profesi "tidak bergengsi" tetapi malah memberikan pemasukan lebih besar ketimbang profesi-profesi yang dipandang "bergengsi."

KIAT KEDUA: Mengenali potensi diri sendiri.

Kiat kedua ini berkaitan dengan pertama. Banyak orang tua atau seseorang memaksa diri memasuki sekolah atau perguruan tinggi favorit (bergengsi). Padahal sesungguhnya mereka tidak atau kurang berpotensi bagi hal itu. Di jepang dikenal istilah "ibu-ibu pendidikan" yang memaksakan anak mereka memasuki peguruan tinggi favorit. Hal ini memicu tingginya angka bunuh diri di kalangan pelajaran.

KIAT KETIGA: Menghilangkan kemalasan

Banyak orang gemar menunda sesuatu karena kemasalan. Semakin ditunda, kemalasan akan semakin bertambah akut. Apabila seseorang gemar menunda-nundan dalam studinya dan tidak segera mengubah kebiasaannya tersebut, kegagalan telah diambang pintu. Sikap kemalasan adalah ibarat pasir sedot yang akan menarik Anda semakin dalam. Oleh karena itu, jangan menunda-nunda mengambil suatu mata kuliah. Selesaikanlah semuanya tetap waktu.

KIAT KEEMPAT: Berbagi

Dengan membagikan atau mengajarkan kembali apa yang kita ketahui, hal itu akan makin memantapkan apa yang kita pahami. Bila malas membagikan apa yang kita ketahui, pengetahuan kita tak akan atau sulit berkembang. Selain itu, tak dapat dipungkiri lagi bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ada yang memiliki kelebihan pada suatu mata kuliah atau pelajaran tertentu, tetapi lemah dalam mata kuliah atau mata pelajaran lainnya. Dengan saling berbagi satu sama lain, kekurangan masing-masing akan saling tertutupi. Oleh sebab itu, menolong orang lain sama dengan menolong diri sendiri.

KIAT KELIMA: Memahami bukan menghafal

Suatu pelajaran bukanlah untuk dihafal melainkan untuk dipahami. Seorang siswa atau mahasiswa perlu memahami apa yang dipelajarinya dan bukan sekedar menghafal. Jika hanya dihafalkan dan tidak dipahami, maka pengetahuan tak akan bersifat matang.

KIAT KEENAM: Kenali setiap peraturan di sekolah ataupun perguruan tinggi

Banyak kegagalan terjadi karena seseorang tidak mengetahui aturan main yang berlaku di sekolah atau perguruan tinggi tempat ia menimba ilmu. Sebagai contoh, ada rekan penulis yang mengalami masalah dalam penyusunan tugas akhir (skripsinya) karena menggunakan jenis huruf (font) garamond, padahal font yang diwajibkan adalah times new roman.

KIAT KETUJUH: Tidak mudah putus asa

Tidak setiap orang memiliki kecepatan yang sama dalam memahami sesuatu. Oleh karena itu, jika mengalami kegagalan harus tetap bangkit dan mencoba mempelajari suatu topik.

Untuk semua orang yang masih menempuh dan menyelesaikan studi. Semoga bermanfaat.

Balada Tiga Pendekar


BALADA TIGA PENDEKAR

Ivan Taniputera
29 Agustus 2012


Tiga pendekar terhuyung-huyung berjalan
Lintasi padang gersang
Sambil mendendang gita kerajaan lama
Nan telah runtuh ratusan tahun silam
Meluruh dalam kekelaman
Tiga pendekar terus melangkah
Lalui padang keabadian
Nyanyian mereka tetap sama
Dari zaman ke zaman
Dari masa ke masa
Dari padang ke padang
Karena lagu mereka adalah bagian kekekalan itu sendiri.

Jumat, 28 September 2012

Nyanyian Seorang Urban Migran

NYANYIAN SEORANG URBAN MIGRAN

Ivan Taniputera
28.09.2012

 
Di tengah-tengah jalan berdebu
Mobil motor penuh deru
Muntahkan asap campur abu
Belantara rimba gedung tinggi membisu.

Aku mengais mencari tempat
Sekedar mencari tepat menyelip
Melepas segenap penat
Di antara gedung dan rumah dengan lampu berkelip.

Namun sungguhlah sukar
Temukan tempat di belitan rapat
Julangan beton nan bagai akar belukar
Menghirup nafas apa sempat?

Siapa sudi hati tulus ikhlas
Memberikan sekedar tempat
Pada seorang pengelana tak berkelas
Hingga dapat berpijak dengan rahmat

Rimba bangunan tanpa jeda
Itulah wajah perkotaan
Apakah daku masih dapat mencari sedikit bidang
Tuk sekedar duduk mencipta karya.

Jumat, 24 Agustus 2012

Apakah Kita Memerlukan Paradigma Baru Dalam Ilmu kedokteran?


Apakah Kita Memerlukan Paradigma Baru Dalam Ilmu Kedokteran?

Ivan Taniputera
24 Agustus 2012

Dewasa ini kita menyaksikan munculnya berbagai penyakit baru yang belum dapat disembuhkan. Apakah ini merupakan peringatan bagi umat manusia bahwa diperlukan paradigma baru dalam ilmu kedokteran. Marilah kita menengok kembali pada sejarah berjangkitnya wabah sampar yang menelan banyak korban jiwa di abad ke-14. Saat itu, para dokter tidak berdaya mengobati penyakit sampar. Penyebabnya adalah paradigma atau konsep yang mereka anut sudah ketinggalan zaman. Mereka ketika itu masih menganut konsep Aristoteles terkait empat elemen, yakni tanah, air, api, dan udara. Berdasarkan konsep tersebut, penyakit timbul akibat adanya ketidak-seimbangan antara keempat elemen ini. Namun konsep tersebut ternyata tidak sanggup menandingi kedigdayaan wabah sampar. Para dokter di zaman Abad Pertengahan belum mengenal mikrobiologi, sehingga tidak mengetahui bahwa penyebab sampar bukanlah "ketidak-seimbangan elemen." Mereka memerlukan paradigma baru dan ilmu kedokteran memang mengalami perombakan dramatis setelah adanya wabah sampar tersebut. Beberapa penemuan baru dalam bidang kedokteran terus  bermunculan selama berabad-abad kemudian.

Apakah adanya penyakit-penyakit baru yang tak tersembuhkan itu merupakan pertanda bahwa umat manusia perlu segera merombak paradigmanya dalam ilmu kedokteran? Siapa tahu. Pola-pola pemikiran yang telah dipegang erat-erat saat ini barangkali perlu dilepaskan atau mungkin diperlukan keberanian dalam mengembangkan hipotesa-hipotesa baru.  Para ahli mikrobiologi perlu mencari pola bagaimana suatu virus bermutasi.



Beberapa terobosan-terobosan lain yang sangat tidak konvensional mungkin perlu dilakukan. Apa yang dahulu dianggap sebagai ilmiah di masa sekarang, barangkali akan disebut tahayul di masa mendatang. Ilmu kedokteran di zaman kita barangkali akan dianggap ketinggalan zaman, kuno, dan primitif pada masa mendatang; sebagaimana halnya kita memandang teori Aristoteles sebagai sesuatu yang sudah ketinggalan zaman. Jika umat manusia terlambat dalam menanggapi peringatan ini, maka barangkali ini merupakan awal proses kepunahan umat manusia.

Rabu, 08 Agustus 2012

Seminar Sukses

Seminar Sukses

Ivan Taniputera
8 Agustus 2012

Dewasa ini kita menyaksikan banyaknya seminar tentang kesuksesan yang ditawarkan.Umpamanya sukses menjadi penjual yang berhasil, sukses pensiun dini, sukses menjadi kaya, dan lain sebagainya. Di sini kita masih menyaksikan bahwa kesuksesan itu hanya dinilai dari sisi materi semata. Benarkah ini kesuksesan sejati? Kalau kita renungkan lebih mendalam, dalam kebanyakan kasus, kesuksesan Anda adalah kegagalan bagi orang lain. Karena hanya ada juara satu, maka jika Anda "berhasil" menjadi juara pertama, itu berarti bahwa orang lain "gagal" menjadi juara pertama. Jadi jelas sekali secara logis, keberhasilan Anda adalah kegagalan bagi orang lain.

Mari kita analisa lebih jauh hal berikut ini, misalkan ada sebuah pabrik yang memproduksi 100 buah barang. Terdapat 10 orang sales dan salah satunya adalah Anda sendiri. Masing-masing sales berupaya menjual sebanyak mungkin dan ingin menjadi sales terbaik. Jikalau Anda berhasil menjual 11 buah barang, maka sudah pasti sales yang lain akan menjual lebih sedikit dibanding Anda. Jadi arti kesuksesan di sini masih dibangun atas dasar kompetisi. Seminar-seminar yang mengajarkan penggapaian kesuksesan masih dibangun atas dasar kompetisi. Sepintas memang kompetisi itu baik, namun mari kita renungkan kembali hal berikut ini.
Bagaimanakah jika kita mengubah paradigma persaingan dalam contoh di atas menjadi demikian: Setiap sales hanya diperkenankan menjual 10 barang saja (100 dibagi 10, yakni jumlah salesnya). Jika ada yang sudah laku semuanya, maka ia terjun membantu sales lain, yang penjualannya paling seret. Di sini terdapat konsep tolong menolong. Semua orang akan mendapatkan hasil yang sama. Manakah yang lebih indah, sistim berdasarkan persaingan ataukah tolong menolong  seperti yang baru saja di ungkapkan?

Dunia kita patut diakui sedang sakit dan menerapkan sistim yang keliru. Kesenjangan sosial meraja lela di mana-mana. Kemiskinan, ketidak-adilan, beserta ketimpangan merajalela di mana. Ada orang yang memiliki tanah berhektar-hektar, sementara yang lain ada yang tidur berjejalan di pondok-pondok kumuh. Ada orang yang makan berlebihan dan tidak jarang membuang-buang makanan, sementara ada orang yang tidak makan selama berhari-hari. Ada orang yang mengatakan bahwa salah orang-orang yang tidur di pondok kumuh itu sendiri, sehingga mereka mengalami nasib demikian. Bahkan seorang pembangkit motivasi mengatakan bahwa tiap orang bisa berhasil. Tetapi benarkah demikian? Anak seorang kaya, semenjak lahir sudah dibekali dengan nilai +1, yakni modal dari orang tuanya. Jika ia mendapatkan mendapatkan pendidikan yang memadai, maka bertambah lagi nilai +1-nya. Ia tentu memiliki rekan-rekan bisnis sesama orang kaya, jadi modal kehidupannya bertambah lagi +1. Kini paling tidak, ia sudah mengantungi nilai +3. Bandingkan dengan orang yang tinggal di pondok kumuh. Ia tidak punya modal apa-apa, nilainya adalah -1. Ia tidak punya kesempatan mendapatkan pendidikan yang memadai, nilainya -1. Koneksinya adalah sesama gelandangan dan pengemis, yang juga sama-sama kekurangan, maka nilainya bertambah lagi dengan -1. Jadi ia mengantungi -3.

Perhatikan betapa kontras perbedaannya. Jika semua orang punya hak untuk berhasil, maka ini adalah pertarungan yang tidak adil. Untuk mencapai kondisi cukup untuk hidup saja, ia harus melampaui 3 poin agar tiba pada nilai 0. Oleh karenanya, seruan pembangkit semangat semacam itu adalah ibarat mengajarkan seseorang bermimpi. Kembali di sini kesuksesan yang dimaksud adalah hanya ditinjau dari sisi materi.

Apakah sukses pensiun dini itu bermoral? Nilai seorang manusia itu adalah manfaat atau kontribusinya bagi sesama. Jika ada orang yang hanya duduk diam menikmati kekayaannya atau hanya ongkang-ongkang kaki saja serta hidup hedonisme, apakah nilainya bagi kehidupan? Orang itu tidak punya nilai sama sekali dan menjadi benalu atau parasit bagi peradaban, karena dia tidak menciptakan nilai tambah sama sekali bagi sesamanya. Lalu bagaimana mungkin seruan pensiun dini dapat dianggap bermoral?

Sebenarnya bagaimanakah kesuksesan yang "sejati"? Kesuksesan "sejati"  adalah kesanggupan menciptakan semakin banyak kebahagiaan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Pada saat kita mampu "sukses" namun kita justru membantu orang lain agar "sukses" maka itulah kesuksesan sejati. Kesuksesan sejati bukanlah terletak  pada pertanyaan "berapa banyak barang yang  Anda telah jual," melainkan pada "berapa banyak orang yang Anda bantu menjualkan barangnya"? Dalam buku "Geography of Bliss" nampak jelas bahwa sikap altruistik adalah salah satu musabab bagi kebahagiaan. Suatu pencapaian egois yang bercirikan "aku hidup-kamu mati" atau "aku menang-kamu kalah" bukanlah kesuksesan sejati. Ubahlah konsep "kebahagiaanku adalah penderitaan bagi orang lain" menjadi "kebahagiaanku adalah kebahagiaan bagi orang lain, kebahagiaan orang lain adalah kebahagianku juga." Barulah dunia ini akan menjadi lebih baik. Semoga bermanfaat.

Selasa, 10 Juli 2012

NEGATIVE EFFECT OF WESTERN CIVILIZATION

 NEGATIVE EFFECT OF WESTERN CIVILIZATION
Ivan Taniputera
11th Juli 2012

One negative effect of western civilization is alienation, that barriers us from our environment and true Self. It is important to find the balance of life based of flexibility, love, and understanding. The punctuality of western Civilization destroys our taste of beauty. Time is choped into hours. Hours are choped into minutes. Minutes are choped into seconds. We forget that time is actually an endless and holistic stream, that can not be separated. 

This kind civilization can not create true happiness in your heart. You must go in hurry to your work, because your life is regulated and yoked by hours, minutes, and seconds. This time division is actually artificial, but you see it as a real and vivid phenomena. Why should your life be regulated by unreal phantoms that arise from your imagination. According to my opinion this is not the best civilization that man should have.