Tampilkan postingan dengan label seni sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

AKU TAHU AKU TAHU

AKU TAHU AKU TAHU

Ivan Taniputera.
16 Juni 2015

Aku tahu apa?
Apa aku tahu?
Tahu apa aku?
Apa-apa aku tahu

Aku tahu aku tahu

SENANDUNG KEBEBASAN

SENANDUNG KEBEBASAN

Ivan Taniputera.
15 Juni 2015


Ketika para manusia itu bergerak
Seiring dengan nafas kebebasan
Menentang tirani pengganyang asa
Penguasa nun duduk di tahta permata
Membelalak murka penuh amarah
Menghentak kaki menggentar alam
Punggawa menghadang arus nurani
Peluru beterbangan menyambar jiwa
Tubuh-tubuh terkapar
Tidak bergerak
Darah menggenang merah merana
Namun nafas kebebasan tiada sirna
Sosok sosok di belakang terus maju
Menyuarakan hati rakyat menderita
Tertindas terus bungkam
Ketika arus deras kebenaran
Tiada kuasa lagi dibendung
Meledak membucah menguak kelaliman
Berarak-arak mengelu-elukan para pahlawan
Mendahului menuju alam keagungan
Jauh dari gentar jauh dari takut
Penguasa durhaka coba bertahan
Tapi banjir air kebenaran
Siapa sanggup menahannya
Batu penghalang bergulir sudah
Raja lalim terguling musnah
Namun perjuangan belum usai
Antek jahat masih bercokol
Mereka masih mendongkol
Melawan kelaliman kapan pernah usai?

Senin, 01 Juni 2015

SENANDUNG RINDU MASA LALU

SENANDUNG RINDU MASA LALU

Ivan Taniputera
1 Juni 2015


Kuberselancar di atas gelombang pasang surut waktu
Menatap batu cadas ribuan tahun
Menjulang menatap awan
Diterpa sinar mentari sepanjang zaman
Manusia datang dan pergi
Dari generasi demi generasi
Membangun dan meruntuhkan peradaban
Ditelan oleh keterlupaan
Pada tahta kosong para kaisar kumelayangkan pandang
Mereka telah pergi dan tak kembali
Reruntuhan istana para raja memanggil-manggil tuannya
Reruntuhan kuil-kuil menatap kesunyian
Tangisan kota-kota tua terbengkalai
Memekik dengan sedih
Ke mana mereka yang dulu ramai di sini?
Memanggil meratapi yang telah meninggalkan mereka
Barisan para pembangun tamadun
Nan melangkah  pasti menuju masa silam
Denting-denting musik melantunkan lagu-lagu lama
Terkenang masa-masa lalu
Penghias helaian buku sejarah
Prajurit-prajurit memasuki gerbang terlupakan
Hanya jejak-jejak samar tersisa
Yang segera terhapus oleh jejak-jejak berikutnya
Semenjak keabadian