Tampilkan postingan dengan label kebijaksanaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebijaksanaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

TELAAH KRITIS TERHADAP KISAH GURU BIJAKSANA

TELAAH KRITIS TERHADAP KISAH GURU BIJAKSANA
.
Ivan Taniputera.
8 Oktober 2015
.


Saya akan melakukan telaah kritis pada kisah yang baru saja saya jumpai. Secara ringkas kisahnya adalah sebagai berikut:
.
Ada dua orang murid, sebut saja si Pandai dan si Bodoh sedang berdebat. Si Pandai mengatakan bahwa 6 x 3 adalah 18; sedangkan si Bodoh dengan yakin menyatakan bahwa 6 x 3 adalah 15. Mereka terus menerus berdebat dan bermaksud menyelesaikan perdebatan itu dengan bertanya pada guru yang mereka segani. 
.
Demikianlah si Pandai dan si Bodoh lalu berkunjung ke tempat kediaman guru. Si Pandai menyatakan bahwa jika dirinya salah maka ia bersedia menerima hukuman 5 kali pukulan dengan rotan. Si Bodoh tidak mau kalah dan menyatakan bahwa jika dirinya yang salah, maka ia bersedia dipenggal.
.
Tanpa pikir panjang, guru menjatuhkan hukuman lima kali pukulan dengan rotan pada si Pandai. Si Pandai tentu saja memprotes hal tersebut dan guru menjawab bahwa hukuman itu bukan dikarenakan jawabannya, melainkan akibat perdebatannya dengan orang bodoh yang tidak mengetahui bahwa 6 x 3 = 18. Guru menganggap bahwa perdebatan itu tidak berguna. Dengan melakukan hal itu, ia telah mendidik agar si Pandai menjadi lebih arif dan menyelamatkan nyawa si Bodoh.
.
Menurut saya kisah di atas mengandung banyak kelemahan dan sama sekali tidak dapat disebut sebagai kisah bijaksana. Guru itu sama sekali tidak bijaksana.
.
Karena kisah di atas menggunakan berhitung atau matematika sebagai analogi, dimana matematika adalah ilmu pasti, maka secara aturan konvensional 6 x 3 hanya mempunyai satu jawaban, yakni 18. Enam kali tiga berarti 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3, yang tentu saja jawabannya sekali lagi adalah 18. Jika guru itu paham matematika, maka ia tentu tahu hal tersebut. Secara konvensional 6 x 3 tidak mungkin 15. Tugas seorang guru adalah menyebarkan kebenaran, termasuk kebenaran matematika atau berhitung.
.
Menghukum murid yang memberikan jawaban benar adalah seolah-olah menyalahkan jawaban tersebut. Jadi guru itu seolah-olah mendukung jawaban yang salah. 
.
Jika si Bodoh yang merasa bangga dengan pandangan salahnya tersebut (karena dibenarkan oleh guru), lalu menyebarkan pandangannya tersebut, tentunya akan sangat berbahaya. Ia bisa saja membujuk orang lain meyakini pandangan salah itu dengan menyatakan bahwa guru bijaksana yang dihormati banyak orang saja sudah mendukungnya. Dalam sejarah banyak pandangan salah yang mengakibatkan penderitaan bagi banyak orang meraja lela, karena tidak ada orang bertindak memotong pandangan salah tersebut dari awalnya. Untungnya dalam kisah di atas yang dibicarakan adalah 6 x 3, bagaimana bila perdebatannya mengenai “membasmi orang yang beda keyakinan dengan kita adalah benar atau salah”? Bagaimana jika si Bodoh menyatakan bahwa “membasmi orang yang beda keyakinan dengan kita adalah benar” sedangkan si Pandai menyatakan hal sebaliknya”? Akankah guru masih menjatuhkan 5 kali pukulan pada si Pandai? Menurut pandangan saya, kebenaran harus tetap didukung, entah menyenangkan atau tidak menyenangkan. 
.
Bagaimana jika si Bodoh harus kehilangan kepala karena pandangan salahnya itu? Biarkan saja orang bodoh binasa karena kebodohannya sendiri. Itu adalah pilihannya sendiri. Namun guru dapat mengampuni si Bodoh dan menasihatinya agar jangan mengambil tindakan berisiko yang bodoh lagi. Dengan demikian, guru tetap mendukung kebenaran dan juga menyelamatkan nyawa si Bodoh. Dengan menyelamatkan nyawanya, si Bodoh mungkin pada lain kesempatan bisa lebih bijaksana, dan kelak namanya mungkin akan berganti menjadi si Pandai II. Ia bukan lagi si Bodoh yang dulu.
.
Namun dengan melakukan tindakan seperti itu, guru yang katanya bijaksana itu justru tidak menyelamatkan si Bodoh. Si Bodoh akan tetap hidup dalam kebodohannya. Guru itu telah bersikap apatis dan menurut saya tidak bisa dikatakan bijaksana. 
.
Sebagai tambahan, kelemahan kisah ini adalah bagaimana jika si Pandai dan si Bodoh sama-sama menghendaki hukuman dipenggal jika bersalah? Masihkah guru akan menghukum si Pandai?
.
Selanjutnya, tindakan si Pandai yang mau mempertahankan kebenaran di hadapan si Bodoh bukan dianggap sebagai tindakan yang tidak berguna. Ia mau melakukan sesuatu untuk mengoreksi pandangan salah. Kejahatan dapat merajalela karena orang baik menolak melakukan sesuatu. Kejahatan bersimaharaja karena orang baik bersikap apatis. Oscar Schindler pada masa PD II berani berkata tidak pada kekejaman dan menyelamatkan ribuan nyawa. Paul Rusesabagina berani berkata tidak pada kekejaman dan menyelamatkan nyawa kaum Hutu yang terancam pembantaian keji. 
.
Jadi upaya si Pandai itu menurut saya sudah benar dan tidak dapat dikatakan sebagai perdebatan tidak bermanfaat. Ia sudah berupaya mengoreksi ketidak-benaran dan tidak bersikap apatis. Bisa saja ia bersikap masa bodoh dan membiarkan si Bodoh dengan pandangan salahnya. Namun itu tidak dilakukannya. Lalu atas dasar apa, guru layak memberikan hukuman 5 pukulan? Jika semua orang menganut pemikiran guru tersebut, maka tidak ada orang yang akan berani mengungkapkan kebenaran. Mereka semua khawatir mendapatkan “lima pukulan dengan rotan.” Semua orang akan menjadi apatis.
.
Sebenarnya ada alternatif yang lebih bijaksana. Bisa saja ditanyakan pada si Bodoh, apakah menurutnya definisi operasi hitung “x” itu. Jikalau menurutnya, “x” adalah “kurangkan satu dan kemudian kalikan,” maka adalah benar bahwa 6 x 3 = 15. Dengan demikian, menurut si Bodoh, 6 x 3 pengertiannya adalah (6-1) lalu kalikan 3, maka hasilnya adalah 15. Meskipun ini “benar,” namun tidak sesuai dengan kelaziman. Mungkin si Bodoh punya konsep sendiri mengenai operasi hitung serta lambang-lambangnya. Jika definisinya sudah saling dipahami maka berbagai permasalahan akan jelas. Kendati demikian, si Bodoh juga seyogianya belajar operasi hitung yang lazim, yakni operasi hitung yang dianut oleh banyak orang berdasarkan perjanjian (konvensi). Kalau dia enggan menerima kelaziman, maka tentu sulit baginya hidup di tengah masyarakat (yang menganut kelaziman tersebut). Tetapi tentu saja itu adalah pilihan hidupnya sendiri.
.
Demikian kritikan saya terhadap kisah di atas, yang menurut saya tidak berisikan kebijaksanaan apa pun. Pandangan yang diwakili kisah di atas justru menjerumuskan seseorang pada apatisme. Tidak heran jika diktaktor-diktaktor bengis seperti Hitler, Stalin, Polpot bisa naik ke panggung negara, karena orang-orang baik secara tidak langsung mendukung mereka melalui berdiam diri.
.
Saya kira jika guru pada kisah di atas membaca artikel ini, bila ia benar-benar bijaksana maka tiada ia akan tersinggung sedikit pun. Oleh karenanya, jangan ada yang tersinggung membaca artikel ini. Guru bijaksana saja tidak tersinggung, lalu mengapa Anda yang tersinggung?

Senin, 02 Februari 2015

KRITIKAN TERHADAP KALIMAT-KALIMAT BIJAK

KRITIKAN TERHADAP KALIMAT-KALIMAT BIJAK 

.
Ivan Taniputera
1 Februari 2015
.

Saya kebetulan baru saja membaca artikel mengenai kalimat-kalimat bijak yang berisikan nasihat kehidupan. Sepintas kalimat-kalimat tersebut nampak bagus, namun jika kita cermati lebih lanjut, ternyata isinya terdapat hal-hal yang patut dikritik. Saya akan mencoba mengkritik beberapa di antaranya.

Salah satu kalimat menyatakan bahwa percuma bagi kita menjalin suatu persahabatan, apabila kita tidak hidup rukun dengan saudara kita. Sepintas memang kalimat di atas nampak "bijak, namun saya punya pendapat lain. Jika kita cermati, maka menjalin persahabatan dan hidup rukun dengan saudara itu adalah dua hal yang berbeda. Saya berpendapat bahwa kedua-duanya sama-sama penting. Meskipun kita tidak hidup rukun dengan saudara kita, apakah lalu kita tidak perlu menjalin persahabatan dengan orang lain? Apakah jika kita tidak rukun dengan saudara, maka kita harus hidup acuh tak acuh atau bermusuhan dengan orang lain? Tentu saja itu adalah logika yang kurang tepat jikalau kita tidak hendak mengatakan keliru sepenuhnya. Kendati seseorang, tidak atau belum dapat hidup rukun dengan saudaranya sendiri, maka tetaplah berguna baginya menjalin persahabatan dengan orang lain. Menjalin persahabatan pun adalah suatu  bentuk kebajikan. Terlepas dari seseorang hidup rukun atau tidak dengan saudaranya adalah tetap bermanfaat baginya hidup bersahabat dengan sesama manusia.  Menjalin persahabatan tidaklah percuma. Tentu saja yang terbaik adalah menjalin persahabatan dengan orang baik dan bijaksana. Bahkan mungkin melalui bersahabat dengan orang bijaksana justru akan menjadikan kita tertular kebijaksanaannya dan memampukan kita hidup rukun dengan saudara-saudara kita.

Kalimat berikutnya menyatakan percuma bagi seseorang bersekolah, apabila perilakunya tidak mencerminkan tata krama. Ini adalah logika atau pandangan yang menurut hemat saya sangat keliru. Sekolah atau pendidikan itu seharusnya dapat diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Apakah jikalau seseorang tidak bertata krama maka ia tidak boleh bersekolah? Apakah jikalau seseorang tidak bertata krama, maka apakah ia hendaknya dibiarkan tidak bersekolah? Untuk menjadikan seseorang bertata krama, maka itu bukan hanya tanggung jawab sekolah semata. Seseorang menjadi bertata krama juga karena hasil didikan orang tua dan masyarakat, bukan hanya beban tanggung jawab sekolah semata. Apakah lantas kita boleh mengatakan, percuma seseorang mempunyai masyarakat dan orang tua bila ia tidak bertata krama? Dengan demikian, pandangan "bijak" di atas nampaknya kurang tepat. Bersekolah dan tata krama adalah dua hal yang berbeda. Tiada yang percuma dengan sekolah. Setidaknya kita masih mendapatkan bekal ilmu atau wawasan yang sekiranya bermanfaat bagi kehidupan kita (tentunya bagi yang bersedia memanfaatkannya).
Kritikan selanjutnya bagi kalimat di atas adalah, tata krama merupakan sesuatu yang sangat relatif dan subyektif. Apa yang dianggap bertata krama oleh suatu bangsa, maka bisa jadi tidak demikian pada bangsa atau masyarakat lain. Jadi seseorang bisa dianggap bertata krama oleh suatu masyarakat namun tidak oleh bangsa atau masyarakat lain. Tata krama juga merupakan sesuatu yang bisa saja berubah seiring berlalunya waktu.
Namun saya tidak mengatatakan bertata krama tidaklah penting. Saya tetap menganjurkan agar kita semua menjalankan tata krama sesuai dengan masyarakat tempat kita hidup. Di situ bumi dipijak di sana langit dijunjung.


Kalimab berikutnya menyatakan percuma bagi seseorang menjadi terpelajar, apabila berperilaku angkuh atau sombong. Antara perilaku sombong/ angkuh dan sikap terpelajar tidak ada korelasinya. Sebelumnya agar tidak terjadi perdebatan yang tidak perlu, maka saya jelaskan dahulu bahwa "terpelajar" artinya mempunyai pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya. Seseorang dikatakan "terpelajar" dalam ilmu teknik mesin, jikalau ia mempunyai pengetahuan-pengetahuan memadai yang dapat menunjang pekerjaannya sebagai seorang insinyur permesinan. Selama ia mempunyai pengetahuan-pengetahuan tersebut, maka ia akan sanggup melakukan pekerjaannya sebagai seorang insinyur mesin, entah ia berperilaku sombong atau tidak.  Tetapi sebagai seorang insinyur kita hendaknya tetap terbuka menerima pengetahuan-pengetahuan baru, karena pengetahuan yang disebut memadai pun akan terus berkembang. Teknik itu tidaklah statis namun dinamis.

Selanjutnya percuma kepintaran seseorang apabila ia bertindak seenaknya. Bertindak seenaknya itu maksudnya bagaimana? Kekurang-tepatan dari kalimat ini segera tampak nyata. Orang pintar jelas tidak bertindak seenaknya. Sebagai contoh, orang yang pintar teknik mesin, jelas tidak akan bertindak seenaknya sendiri, karena ia mengetahui bahwa terdapat kaidah-kaidah atau standar dalam bidang teknik mesin yang perlu dipatuhi. Kalau masih bertindak seenaknya, maka ia jelas "tidak pintar," karena belum menyadari bahwa tindakan tersebut justru akan menghambat pekerjaannya. Misalnya ia merancang mesin dengan ukuran tidak standar, maka itu akan merepotkannya dalam memilih suku-suku cadang pendukungnya.

Kemudian, percuma memohon dengan terus menerus, apabila waktunya belum tiba. Mungkin yang dimaksud adalah memohon agar keinginan kita tercapai. Kalimat "bijak" ini jelas sangat tidak tepat karena keinginan tercapai bukan dengan memohon. Agar kenyang kita harus berusaha (dengan makan) bukan hanya semata-mata memohon agar perut kita kenyang. Kalau ingin kaya atau punya uang kita harus bekerja bukan memohon agar kaya.

Percuma beramal jikalau seseorang gemar mengambil hak milik orang lain. Beramal itu sebenarnya latihan hidup untuk mengurangi keserakahan. Orang mengambil hak milik orang lain karena serakah. Logikanya jika seseorang gemar mengambil hak milik orang lain, kecil kemungkinannya ia gemar beramal. Keduanya adalah hal yang bertolak belakang. Ibaratnya mengharapkan api menjadi dingin atau es menjadi panas jika kita pegang. Justru orang yang gemar mengambil hak milik orang lain, seharusnya diajarkan beramal guna mengikis keserakahannya.

Percuma berbuat kebajikan jika gemar menuruti hawa nafsunya. Sebagaimana beramal, berbuat kebajikan pun adalah latihan spiritual atau latihan kehidupan. Bagaimana mungkin disebut percuma? Jikalau seorang gemar menuruti hawa nafsunya dikatakan percuma berbuat kebajikan, apakah ia lantas tidak perlu berbuat kebajikan? Bukankah dengan demikian keburukannya menjadi berganda? Justru orang yang gemar menuruti hawa nafsunya harus dilatih berbuat semakin banyak kebajikan. Dengan demikian, lambat laun pikirannya akan terarah menuju kebajikan. Lalu siapakah di antara kita yang sudah bebas dari hawa nafsu?

Demikianlah, tidak semua kalimat-kalimat yang disebut "kalimat kebijaksanaan" itu benar-benar "bijak." Banyak slogan yang nampak indah dan bijak, tetapi sebenarnya kosong. Oleh karenanya, kita harus tetap kritis. Jangan membuta mengikuti atau terkagum-kagum pada slogan yang terdengar "bijak" padahal sebenarnya hanya kata-kata kosong. Kendati demikian, slogan seperti itu bukannya tidak bermanfaat, melainkan sungguh berguna dalam melatih kekritisan dan kemampuan berlogika kita. Sebagai makhluk yang berakal budi marilah kita jangan enggan mengkritik sesuatu.

Semoga bermanfaat.

Salam logika!

Senin, 29 September 2014

CATATAN FILOSOFI KULINERKU: RENUNGAN MASAKAN FUYUNGHAI VEGETARIAN KREASIKU

CATATAN FILOSOFI KULINERKU: RENUNGAN MASAKAN FUYUNGHAI VEGETARIAN KREASIKU

Ivan Taniputera
29 September 2014




Hari ini saya mencoba berkreasi kuliner dengan mencoba memasak Fuyunghai Vegetarian. Bagi saya segenap kegiatan dapat menjadi meditasi dan renungan yang memperkaya batin. Sebelum membahas makna filosofisnya, saya akan menjelaskan serba sedikit cara membuatnya. Tentu saja karena memasak adalan seni, maka tidak ada cara yang baku. Siapa saja boleh memodifikasi resep sesuai dengan seleranya. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah.

Bahan-bahannya adalah sederhana, antara lain adalah sayur-sayuran sesuai selera Anda. Saya menggunakan wortel, jagung, dan kol sebagai sayuran pengisi Fuyunghai. Bahan selanjutnya adalah telur dan tepung terigu. Pertama-tama, wortel, jagung, dan kol direbus sehingga lunak dan tidak terlalu keras. Bumbunya bebas, boleh tambahkan kecap sedikit atau bumbu lain sesuai selera.

Kocok telurnya dan masukkan tepung terigu secukupnya. Masukkan bumbu yang telah dipersiapkan. Goreng Fuyunghainya hingga matang.

Lalu bubuhkan saus tomat. Boleh juga ditambah kacang kapri. Semestinya saya ingin menambahkan kacang kapri, tetapi lupa beli.

Baik kini saya akan memulai renungan filsafat kehidupan saat memasak tadi.  Pertama-tama mata saya tertumbuk pada kuali masak. Saya biasa menggunakan kuali masak yang terbuat dari besi tahan karat (stainless steel). Dalam kehidupan ini, kita jangan sampai berkarat. Jangan sampai kehidupan kita dicemari oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Kita harus meneladani besi tahan karat tersebut yang tidak menjadi berkarat. Jika sudah berkarat atau tergores, maka akan membahayakan kesehatan kita. Akhirnya harus dibuang. Begitu pula seseorang jika sudah berkarat, maka ia akan membahayakan orang lain. Ia akan menjadi batu sandungan bagi orang lain, sehingga akhirnya masuk dalam kalangan yang terbuang.

Wortel mengandung vitamin A yang sehat bagi mata. Secara filosofis, kita memerlukan mata yang sehat, yakni dalam artian pandangan terhadap kebaikan. Kita hendaknya senantiasa memandang pada kebajikan dan jangan memandang keburukan. Kita hendaknya sedapat mungkin memandang setiap makhluk dengan pandangan kasih sayang. Demikianlah aspek-aspek pandangan yang sehat.

Jagung mempunyai cita rasa manis. Begitu pula kita hendaknya senantiasa memandang pada manisnya kehidupan dan jangan melekat pada suramnya kehidupan. Dewasa ini banyak orang yang terus berkutat pada kesedihan dan kepahitan hidupnya. Dengan demikian, ia kehilangan selera pada manisnya kehidupan. Saya tidak memandang orang-orang ini sebagai bersalah. Apakah yang benar dan apakah yang salah? Namun yang pasti itu adalah pilihan. Jika seseorang memilih hidup bahagia, tentu ia akan memandang manisnya kehidupan. Di bagian tengah jagung terdapat bonggol yang keras. Setelah bulir-bulir jagungnya saya pipil, maka bonggolnya saya buang. Saya mendapatkan bahwa maknanya adalah kita jangan menyimpan sesuatu yang tidak bermanfaat atau buruk. Kita mengambil saja apa yang bermanfaat dan baik bagi kita. Apa yang kita anggap tidak bermanfaat atau tidak baik, maka lepaskanlah. Anehnya banyak orang justru terus melekati hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak baik bagi dirinya. Akhirnya justru dapat mengakibatkan penyakit batin. Oleh karena itu, laksana bonggol jagung tersebut, setelah kita memipil bulir-bulir jagungnya, maka buanglah. Jangan dilekati.

Kol mempunyai berbagai lapisan. Setiap lapisannya dapat kita makan. Dengan demikian, kita hendaknya menjadi manusia yang serba guna dan dapat diandalkan. Jangan menjadi manusia yang serba tidak berguna. Sudah tidak berguna malah mengganggu orang lain.

Demikianlah makna yang dapat kita petik dari bahan-bahan pembuat Fuyunghai tersebut.

Semua bahan-bahan itu masih harus kita masak. Demikian pula dalam kehidupan ini, kita jangan kabur dari api kehidupan yang akan memasak kita. Setelah dimasak, maka segenap wawasan dan kepribadian kita akan semakin matang. Segenap bahan makanan kalau mentah tentu tidak enak dimakan. Anda ingin menjadi orang yang wawasan dan kepribadiannya matang atau mentah?

Selama masak kita harus menjaga agar tidak hangus. Begitu pula dalam hidup kita jangan berlebihan. Semuanya ada batasan-batasannya.

Demikian semoga bermanfaat dan dapat menjadi renungan bagi kita semua.

Artikel-artikel menarik lainnya mengenai pelajaran kehidupan, ramalan, Fengshui, metafisika, Astrologi, Bazi, Ziweidoushu, dan lain-lain silakan kunjungi: https://www.facebook.com/groups/339499392807581/


Kamis, 06 Maret 2014

MEMBEBASKAN DIRI DARI BAYANG-BAYANG MASA LALU

MEMBEBASKAN DIRI DARI BAYANG-BAYANG MASA LALU

Ivan Taniputera
7 Maret 2014



Salah seorang sahabat lama yang kerap berkonsultasi pada saya menanyakan bagaimana membebaskan diri dari bayang-bayang masa lalu. Guna menjawab pertanyaan tersebut dan juga barangkali terdapat orang-orang lain yang memiliki pertanyaan sama, maka saya memberanikan diri menulis artikel ini.

Bayang-bayang terjadi karena adanya cahaya. Oleh karenanya, agar dapat membebaskan diri dari bayang-bayang masa lalu, Anda perlu memadamkan "cahaya"nya. Apabila "cahaya" sudah padam, maka bayang-bayang masa lampau Anda juga akan padam. Ini adalah suatu kenyataan sangat sederhana, namun tidak banyak orang memahaminya. Mereka ingin bebas dari bayang-bayang masa lalu, namun justru terus menerus mendekat dan mencari sumber "cahaya" baru. Akibatnya bayang-bayang masa lalu yang timbul semakin rumit dan kompleks. Ibaratnya adalah sebuah lingkaran tanpa akhir. Dengan memahami kenyataan ini, jika ingin bebas Anda hendaknya jangan mencari sumber "cahaya" baru. Padamkanlah "cahaya" tersebut.

Lalu barangkali Anda akan spontan bertanya, "Bagaimanakah cara memadamkan "cahaya"nya?" Mencari cara memadamkan "cahaya" itu adalah pekerjaan rumah (PR) Anda sendiri. Terdapat tak terhingga cara dalam memadamkan "cahaya" penimbul bayang-bayang masa lalu. Anda harus menemukan caranya sendiri. Ibaratnya saat meniup lilin, maka kita dapat meniupnya dari sudut berapa saja atau dengan kecepatan hembusan angin berapa saja. Jika kita membakukan dan mengajarkannya pada orang lain, misalnya kita harus meniup lilin dengan sudut 60 derajat terhadap garis mendatar dan kecepatan angin 40 km/jam yang keluar dari mulut kita, maka lama kelamaan orang yang mengikuti ajaran kita terkait peniupan lilin tersebut akan melekat pada "tata cara." Mereka berpeluang menganggap bahwa peniupan lilin dengan cara lainnya adalah "salah." Padahal tujuannya adalah sama-sama memadamkan lilin. Lilin juga akan sama-sama padam. Jadi cara memadamkan "cahaya" Anda harus menemukannya sendiri dan jangan mengekor orang lain. Jangan pula mengajarkannya pada orang lain. Biarkan mereka menemukan caranya sendiri. Anda juga jangan bertanya pada saya bagaimana memadamkan "cahaya" tersebut. Temukanlah sendiri. Itu adalah pekerjaan rumah (PR) Anda. Anda hendaknya tidak menyuruh orang lain mengerjakan PR Anda, bukan? Jika orang lain yang mengerjakan maka Anda telah bertindak curang. Demikian kurang lebih analoginya.

Lalu berapa lama dibutuhkan guna menemukan cara memadamkan "cahaya"? Jawabnya berbeda-beda bagi setiap orang. Bisa sehari, dua hari, enam hari, seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun, dan yang terburuk adalah seumur hidup. Bahkan mungkin seumur hidup Anda tidak akan sanggup menyelesaikan PR Anda tersebut. Semuanya bergantung pada tekad dan kesungguhan Anda dalam mengerjakan PR.

Anda juga tidak mungkin menyuruh orang lain memadamkan "cahaya"-nya setiap kali bayang-bayang masa lalu itu muncul. Ibaratnya Anda tidak mungkin mengetuk pintu rumah tetangga-tentangga Anda setiap kali Anda ingin memadamkan lilin. Misalnya malam ini Anda akan mengetuk pintu rumah tetangga Anda bernama A tatkala Anda hendak memadamkan lilin Anda. Kemarin Anda meminta B. Besoknya akan meminta C. Ini jelas mustahil dan para tetangga itu mungkin akan terganggu dengan tindakan Anda. Mereka juga mungkin sibuk memadamkan lilinnya masing-masing. Jadi Anda yang hendaknya memadamkan "cahaya" itu adalah diri Anda sendiri. Bukan orang lain.

Selamat mengerjakan pekerjaan rumah (PR) Anda. Semoga bermanfaat.

Artikel menarik lainnya silakan kunjungi https://www.facebook.com/groups/339499392807581/

Kamis, 23 Januari 2014

SAAT YANG MENENTUKAN

SAAT YANG MENENTUKAN 
Ivan Taniputera
23 Januari 2014

Saat menentukan (decisive moment) adalah suatu peristiwa yang berpotensi mengubah jalan kehidupan seseorang atau suatu bangsa. Salah satu contoh saat menentukan dalam kehidupan seseorang adalah seorang teman yang telah bekerja di sebuah perusahaan nasional. Kariernya boleh dikatakan sudah mapan. Namun suatu ketika, ada teman lain yang mengajaknya berbisnis sendiri. Setelah mempertimbangkan matang-matang, teman tersebut dengan penuh keberanian keluar dari perusahaan dan mengawali usahanya sendiri. Kini ia telah menjadi seorang boss. Keputusannya keluar dari pekerjaan dan merintis bisnis sendiri itu merupakan saat menentukan dalam hidupnya.
Terdapat pula contoh lainnya yang saya dapatkan dari menonton tayangan di sebuah saluran televisi mengenai orang-orang yang kecanduan narkoba. Biasanya seseorang mengalami kecanduan karena menerima tawaran narkoba dari temannya. Akibat kecanduan tersebut kehidupan seseorang mengalami keruntuhan. Keputusannya mengonsumsi narkoba itulah merupakan saat menentukan dalam hidupnya.
Dengan demikian, saat menentukan itu dapat mengubah hidup kita secara positif dan negatif. Berdasarkan kenyataan ini ditinjau dari dampaknya kita dapat membedakan saat menentukan menjadi:
  • Yang membawa dampak positif
  • Yang membawa dampak negatif
Setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup dapat merupakan saat menentukan yang berpeluang mengubah kehidupan kita secara drastis. Oleh karenanya, orang  berhasil adalah orang yang sanggup mengambil dan menangkap saat menentukan bernilai positif dalam hidupnya. Kita tidak pernah tahu kapan saat menentukan itu timbul. Terkadang saat menentukan itu harus kita temukan sendiri atau justru ia yang mendatangi kita dengan sendirinya. Dengan demikian, berdasarkan kemunculannya terdapat dua jenis saat menentukan:
  • Yang harus kita upayakan atau cari sendiri
  • Yang datang pada kita dengan sendirinya
Apa pun jenis saat menentukan itu, kita harus menelaahnya matang-matang. Kita harus dapat menganalisa dampak yang akan ditimbulkannya. Bagaimana cara kita menelahnya? Gunakan senjata 4 W dan 1 H:
What (Apa?)
Identifikasikan segenap keputusan Anda secara jelas. Misalnya Anda ingin merintis bisnis baru dalam bidang makanan. Maka Anda harus jelas terlebih dahulu APA yang dimaksud bisnis makanan tersebut. Makanan APA yang mau dijual dan lain sebagainya. Tanyakan APA sebanyak mungkin dan telaah apakah Anda dapat menjawabnya semua. Jika Anda tidak dapat menjawabnya, berarti pengetahuan Anda belum memadai dan harus mencari lebih banyak keterangan.
Where (Dimana?)
Di manakah Anda akan menjalankan keputusan tersebut? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan sebuah tempat secara harafiah, atau sebuah tempat yang abstrak, termasuk di manakah kesiapan mental Anda saat ini?
Who (Siapa?)
Ini menanyakan SIAPA diri Anda, dalam artian apakah Anda adalah orang yang tepat dalam menjalankan keputusan tersebut.
Why (Mengapa?)
Mengapa Anda menjalankan keputusan tersebut? Analisa dahulu alasannya baik secara fisik mau pun moral.
How (Bagaimana?)
Bagaimana Anda menjalankan keputusan tersebut. Apakah Anda sudah punya metoda yang jelas atau hanya sekedar impian atau khayalan semata?
Gunakan senjatan di atas guna menelaah keputusan Anda. Jika sudah terjawab semua dengan memuaskan barulah Anda menjalankannya. Dengan demikian, Anda telah siap menapaki saat menentukan dalam kehidupan Anda menuju ke arah positif.
Satu hal penting sebagai penutup artikel ini adalah saat menentukan yang dapat mengubah kehidupan seseorang secara drastis menuju ke arah lebih baik hanya diperuntukkan bagi kaum pemberani saja. Berani tetapi bijaksana, bukan hanya asal berani saja.
Demikian semoga bermanfaat. Selamat menapaki saat menentukan dalam kehidupan Anda menuju ke arah positif.