Tampilkan postingan dengan label petuah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petuah. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juni 2016

RENUNGAN BUAH CERI DAN PUDING: SUATU TELAAH FILSAFAT KULINER

RENUNGAN BUAH CERI DAN PUDING: SUATU TELAAH FILSAFAT KULINER.
.
Ivan Taniputera.
18 Juni 2016
.

.
Hari ini saya akan mengajak para pembaca sekalian merenungkan mengenai buah ceri dan puding yang barangkali dapat mendatangkan manfaat dalam kehidupan ini. Jikalau kita mencoba memandang dunia dari sisi buah ceri sebagaimana tampak pada gambar di atas, maka wawasan buah ceri itu hanya akan sebatas puding dan pinggiran gelas. Apabila buah ceri tidak bersedia meluaskan wawasannya, maka hanya sebatas itu sajalah jangkauan pandangannya. Ia hanya akan dibatasi oleh puding dan tepian gelas saja. Tetapi jika ia bersedia memandang lebih jauh dari semua itu, maka wawasannya juga akan luas.
.
Begitu pula orang yang tidak bersedia meluaskan jangkauan pandangannya akan mempunyai wawasan sempit dan terbatas. Wawasan semacam itu hanya akan mengakibatkan keterbatasan bagi diri sendiri dan kegagalan memahami segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih besar.
.
Bagi ceri tersebut segala sesuatu hanya dinilai berdasarkan puding dan tepian gelas. Ia mungkin tidak mengetahui bahwa masih banyak makanan pencuci mulut lainnya, seperti es krim, es campur, nagasari, klepon, dan lain sebagainya. Ia akan menganggap bahwa satu-satunya yang ada dan benar adalah puding dan tepian gelas selaku pembatas cakrawala pemahamannya. Pandangan sempit bisa mengakibatkan fanatisme membuta yang tidak jarang menimbulkan bahaya besar bagi dunia ini.
.
Salah satu perwujudannya adalah nasionalisme sempit dan xenofobia, yang telah memicu perang-perang besar; begitu pula dengan penganiayaan karena agama. Agama yang seharusnya mendatangkan perdamaian dan kebahagiaan bagi umat manusia justru mengakibatkan pertumpahan darah. Semuanya diakibatkan oleh ketidak mampuan meluaskan wawasan kita.
.
Misalkan ada ceri lain yang telah melanglang dapur dan seluruh rumah makan tersebut datang serta masuk ke dalam gelas tersebut, lalu berkata pada ceri pertama bahwa masih terdapat hal-hal selain puding dan tepian gelas, maka mungkin sekali ceri pertama tadi akan melabeli ceri kedua sebagai sesat. Hal-hal di luar puding dan tepian gelas dianggap sebagai tidak masuk akal oleh ceri pertama. Ceri kedua tadi pastilah sesat atau gila karena mengatakan sesuatu yang tidak ada dari sudut pandang ceri pertama. Jika ceri pertama cukup beruntung, maka ia akan bersedia dan berani keluar dari gelas serta menjelajah sendiri seluruh dapur dan rumah makan, bila perlu seluruh dunia beserta jagad raya, barulah dengan demikian ia akan memahami keterbatasan pandangannya selama ini.
.
Namun berapa banyak umat manusia yang seberuntung dan seberani ceri pertama tadi? Seberapa banyak di antara umat manusia berani keluar dari kungkungan batasan cakrawala pemahamannya selama ini? Marilah kita renungkan.

Sabtu, 14 Mei 2016

PELAJARAN BERHARGA DARI TEKA-TEKI LABIRIN INI

PELAJARAN BERHARGA DARI TEKA-TEKI LABIRIN INI
.
Ivan Taniputera.
14 Mei 2016
.
Beberapa waktu yang lalu saya menampilkan teka teki labirin berikut ini.
.




.
Carilah jalan dari tanda panah hijau bertulisan “mulai” menuju ke “tujuan” di bagian tengah. Semua orang yang mencoba memecahkan teka-teki ini mengalami kebuntuan. Sebenarnya, tujuan teka-teki labirin ini adalah mengajak kita semua merenungkan beberapa pelajaran berharga.
.
Sebelumnya, saya akan memuat terlebih dahulu gambar jawaban teka-teki labirin di atas.
.



Jadi jelas sekali, jika Anda cermat dan sanggup menemukan garis-garis berwarna biru di atas, maka nampak bahwa “tujuan” itu mustahil dicapai. Bagian “tujuan” itu sebenarnya tertutup atau terhalang dari semua sisi. Dengan demikian, “tujuan” itu tidak mungkin dicapai dari mana pun juga (dalam hal ini dari arah luar). Garis berwarna oranye memperlihatkan bahwa ke arah mana pun Anda bergerak, akhirnya akan kembali ke titik “mulai” lagi.
.
Apakah pelajaran yang dapat kita ambil?
.
Pertama, banyak orang (atau mungkin semua orang) menjadikan “kebahagiaan” sebagai tujuan dalam hidupnya. Siapakah yang tidak ingin bahagia? Namun tidak sedikit orang menjadikan sesuatu di luar dirinya sebagai sumber kebahagiaan. Aku akan merasa bahagia kalau sudah mempunyai ini atau itu. Tetapi semua itu, ternyata tidak menjadikannya bahagia, karena keinginan manusia itu ibarat sumur tidak berdasar. Meski telah mendapatkan sesuatu, seseorang pasti mendambakan hal lainnya lagi. Sesudah lulus SD, orang ingin lulus SMP. Sesudah lulus SMP, seseorang ingin lulus SMU. Setelah mendapatkan ini, ia ingin mendapatkan itu. Polanya terus berulang bagaikan lingkaran setan. Ia terus terjerumus pada keinginan berikutnya, yakni suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupannya. Tujuan berupa kebahagiaan itu terus menerus ingin dicapainya, namun tidak pernah berhasil. Ia terus menerus berputar-putar mencari tujuan itu, namun anehnya tetap kembali ke titik awal. Hal inilah yang digambar oleh garis-garis oranye pada gambar di atas. Ke manapun Anda pergi, Anda akan tiba pada titik awal.
.
Akhirnya, ia menyadari bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dicapai dari luar. Kebahagiaan itu seharusnya sudah ada di dalam, hanya saja terdapat tembok pemisah yang tidak tertembus.
.
Pelajaran kedua, terkadang pemecahan suatu masalah itu justru berada pada titik awal masalah itu sendiri. Ke mana pun Anda berlari mencari pemecahannya, Anda akhirnya pada titik awal pencarian Anda.
.
Begitu pula orang yang mencari suatu pencerahan spiritual, akhirnya harus kembali pada dirinya sendiri. Pencerahan spiritual di luar dirinya adalah sesuatu yang mustahil. Akhir pencarian akhirnya adalah diri sendiri., yakni titik awal pencarian itu sendiri.
.
Demikianlah renungan berharga berasal dari teka-teki labirin ini. Selamat berakhir pekan.

Minggu, 03 April 2016

INVESTASI YANG PALING AMAN

INVESTASI YANG PALING AMAN
-
Ivan Taniputera. 
2 April 2016.
.
.




Gemar beramal (berdana) serta mempunyai moral yang bajik, sanggup mengendalikan hawa nafsu keinginan dan mempunyai kemampuan mengendalikan diri, adalah kumpulan harta terbaik bagi seorang wanita ataupun pria. Harta tersebut dapat diperoleh melalui kebajikan, yang ditujukan pada tempat-tempat ibadah atau komunitas para biarawan (Sangha), terhadap orang lain atau tamu, terhadap Ibu dan Ayah atau seseorang lebih tua usianya. (Nidhikanda Sutta).
.
Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:20-21, LAI).
.
Baru-baru ini di kota kelahiran saya dihebohkan oleh penipuan berupa investasi abal-abal yang merugikan banyak orang. Pelakunya telah melarikan diri dan kasus ini telah dilaporkan pada polisi.
.
Banyak orang tergiur oleh investasi yang menjanjikan keuntungan luar biasa besar. Karena mengharapkan keuntungan dengan mudah tanpa perlu kerja keras itulah banyak orang tertipu dan berakhir dengan penyesalan.
.
Sesungguhnya adakah investasi yang aman dan sanggup menghasilkan keberuntungan besar? Tentu saja ada.
.
Terdapat dua investasi yang menguntungkan dan aman. Yang pertama adalah investasi di ladang kebajikan; sedangkan yang kedua adalah investasi di ladang pengetahuan.
.
Dalam berbuat kebajikan kita tidak mengharapkan suatu hasil atau balasan tertentu. Kita hanya tahu bahwa kebajikan itu adalah sesuatu yang bermanfaat. Apa yang kita tanam tidak ada sesuatu pun dapat merusak atau mencurinya. Kurang aman apa lagi?
.
Pengetahuan yang telah kita tanam dalam diri kita sendiri juga tidak dapat dicuri atau diambil oleh seorang pun. Adalah tidak masuk akal serta mustahil apabila seseorang mencuri apa yang kita ketahui dan sesudah itu kita serta merta tidak mengetahuinya lagi. Adakah yang lebih aman dibandingkan investasi ini?
.
Oleh karenanya, sungguh aneh jika lebih banyak orang memilih investasi yang tidak aman.

Sabtu, 17 Oktober 2015

HAL TERBAIK BAGI KITA MUNGKIN JUSTRU YANG TIDAK MENYENANGKAN

HAL TERBAIK BAGI KITA MUNGKIN JUSTRU YANG TIDAK MENYENANGKAN
.
Ivan Taniputera
17 Oktober 2015
.



.
Pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan sesuatu yang barangkali bermanfaat bagi kita semua. Artikel kali ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata seorang sahabat yang diceritakan pada saya. Untuk melindungi privasi, maka nama-nama tidak akan disebutkan dan ceritanya sedikit diubah. Namun intisarinya tetap sama.
.
Kebanyakan di antara kita merasa kesal atau marah jika mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak kita harapkan. Tetapi apakah kita pernah menyadari bahwa hal tidak menyenangkan atau tidak diharapkan tersebut justru akan mendatangkan kebaikan pada kita?
.
Suatu kali seorang sahabat diundang menghadiri pesta pernikahan kenalannya. Sewaktu sedang duduk menikmati hidangan, tiba-tiba tiang penyangga tenda jatuh dan menimpa orang yang duduk tepat di sebelahnya hingga luka parah.
.
Sampai di sini, kita akan melakukan kilas balik terhadap peristiwa yang terjadi sebelumnya. Biasanya saat menghadiri undangan pesta, maka kawan saya akan ditemani oleh suami atau anaknya. Namun hari itu, suami sahabat saya tersebut mendapatkan tugas kantor mendadak, sehingga batal menemaninya ke pesta. Meski merasa kecewa, kini harapan beralih pada anaknya. Meskipun demikian, saat menjelang keberangkatan ke pesta tiba-tiba teman sang anak menelepon dan mengajaknya jalan-jalan ke mall. Ternyata sang anak lebih memilih pergi bersama temannya, sehingga batal menemani ibunya ke pesta.
.
Akhirnya dengan disertai perasaan sedih, marah, dan kecewa, sahabat saya berangkat sendiri ke pesta. Kini kembali ke saat pesta tersebut. Sahabat saya lantas merenungkan bahwa jika ia berangkat bersama suami atau anaknya, maka yang duduk di sampingnya dan tertimpa tiang itu kemungkinan adalah suami, anak, atau bahkan dirinya sendiri. Dengan mengalami rangkaian peristiwa tidak menyenangkan itu, justru diri dan keluarganya selamat.
.
Berdasarkan kisah di atas, marilah kita merenungkan apakah kita perlu merasa marah dan kesal berkepanjangan tatkala sesuatu tidak terjadi sesuai kehendak kita?
.
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, metafisika, dan lain-lain, silakan kunjungi:



Kamis, 08 Oktober 2015

TELAAH KRITIS TERHADAP KISAH GURU BIJAKSANA

TELAAH KRITIS TERHADAP KISAH GURU BIJAKSANA
.
Ivan Taniputera.
8 Oktober 2015
.


Saya akan melakukan telaah kritis pada kisah yang baru saja saya jumpai. Secara ringkas kisahnya adalah sebagai berikut:
.
Ada dua orang murid, sebut saja si Pandai dan si Bodoh sedang berdebat. Si Pandai mengatakan bahwa 6 x 3 adalah 18; sedangkan si Bodoh dengan yakin menyatakan bahwa 6 x 3 adalah 15. Mereka terus menerus berdebat dan bermaksud menyelesaikan perdebatan itu dengan bertanya pada guru yang mereka segani. 
.
Demikianlah si Pandai dan si Bodoh lalu berkunjung ke tempat kediaman guru. Si Pandai menyatakan bahwa jika dirinya salah maka ia bersedia menerima hukuman 5 kali pukulan dengan rotan. Si Bodoh tidak mau kalah dan menyatakan bahwa jika dirinya yang salah, maka ia bersedia dipenggal.
.
Tanpa pikir panjang, guru menjatuhkan hukuman lima kali pukulan dengan rotan pada si Pandai. Si Pandai tentu saja memprotes hal tersebut dan guru menjawab bahwa hukuman itu bukan dikarenakan jawabannya, melainkan akibat perdebatannya dengan orang bodoh yang tidak mengetahui bahwa 6 x 3 = 18. Guru menganggap bahwa perdebatan itu tidak berguna. Dengan melakukan hal itu, ia telah mendidik agar si Pandai menjadi lebih arif dan menyelamatkan nyawa si Bodoh.
.
Menurut saya kisah di atas mengandung banyak kelemahan dan sama sekali tidak dapat disebut sebagai kisah bijaksana. Guru itu sama sekali tidak bijaksana.
.
Karena kisah di atas menggunakan berhitung atau matematika sebagai analogi, dimana matematika adalah ilmu pasti, maka secara aturan konvensional 6 x 3 hanya mempunyai satu jawaban, yakni 18. Enam kali tiga berarti 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3, yang tentu saja jawabannya sekali lagi adalah 18. Jika guru itu paham matematika, maka ia tentu tahu hal tersebut. Secara konvensional 6 x 3 tidak mungkin 15. Tugas seorang guru adalah menyebarkan kebenaran, termasuk kebenaran matematika atau berhitung.
.
Menghukum murid yang memberikan jawaban benar adalah seolah-olah menyalahkan jawaban tersebut. Jadi guru itu seolah-olah mendukung jawaban yang salah. 
.
Jika si Bodoh yang merasa bangga dengan pandangan salahnya tersebut (karena dibenarkan oleh guru), lalu menyebarkan pandangannya tersebut, tentunya akan sangat berbahaya. Ia bisa saja membujuk orang lain meyakini pandangan salah itu dengan menyatakan bahwa guru bijaksana yang dihormati banyak orang saja sudah mendukungnya. Dalam sejarah banyak pandangan salah yang mengakibatkan penderitaan bagi banyak orang meraja lela, karena tidak ada orang bertindak memotong pandangan salah tersebut dari awalnya. Untungnya dalam kisah di atas yang dibicarakan adalah 6 x 3, bagaimana bila perdebatannya mengenai “membasmi orang yang beda keyakinan dengan kita adalah benar atau salah”? Bagaimana jika si Bodoh menyatakan bahwa “membasmi orang yang beda keyakinan dengan kita adalah benar” sedangkan si Pandai menyatakan hal sebaliknya”? Akankah guru masih menjatuhkan 5 kali pukulan pada si Pandai? Menurut pandangan saya, kebenaran harus tetap didukung, entah menyenangkan atau tidak menyenangkan. 
.
Bagaimana jika si Bodoh harus kehilangan kepala karena pandangan salahnya itu? Biarkan saja orang bodoh binasa karena kebodohannya sendiri. Itu adalah pilihannya sendiri. Namun guru dapat mengampuni si Bodoh dan menasihatinya agar jangan mengambil tindakan berisiko yang bodoh lagi. Dengan demikian, guru tetap mendukung kebenaran dan juga menyelamatkan nyawa si Bodoh. Dengan menyelamatkan nyawanya, si Bodoh mungkin pada lain kesempatan bisa lebih bijaksana, dan kelak namanya mungkin akan berganti menjadi si Pandai II. Ia bukan lagi si Bodoh yang dulu.
.
Namun dengan melakukan tindakan seperti itu, guru yang katanya bijaksana itu justru tidak menyelamatkan si Bodoh. Si Bodoh akan tetap hidup dalam kebodohannya. Guru itu telah bersikap apatis dan menurut saya tidak bisa dikatakan bijaksana. 
.
Sebagai tambahan, kelemahan kisah ini adalah bagaimana jika si Pandai dan si Bodoh sama-sama menghendaki hukuman dipenggal jika bersalah? Masihkah guru akan menghukum si Pandai?
.
Selanjutnya, tindakan si Pandai yang mau mempertahankan kebenaran di hadapan si Bodoh bukan dianggap sebagai tindakan yang tidak berguna. Ia mau melakukan sesuatu untuk mengoreksi pandangan salah. Kejahatan dapat merajalela karena orang baik menolak melakukan sesuatu. Kejahatan bersimaharaja karena orang baik bersikap apatis. Oscar Schindler pada masa PD II berani berkata tidak pada kekejaman dan menyelamatkan ribuan nyawa. Paul Rusesabagina berani berkata tidak pada kekejaman dan menyelamatkan nyawa kaum Hutu yang terancam pembantaian keji. 
.
Jadi upaya si Pandai itu menurut saya sudah benar dan tidak dapat dikatakan sebagai perdebatan tidak bermanfaat. Ia sudah berupaya mengoreksi ketidak-benaran dan tidak bersikap apatis. Bisa saja ia bersikap masa bodoh dan membiarkan si Bodoh dengan pandangan salahnya. Namun itu tidak dilakukannya. Lalu atas dasar apa, guru layak memberikan hukuman 5 pukulan? Jika semua orang menganut pemikiran guru tersebut, maka tidak ada orang yang akan berani mengungkapkan kebenaran. Mereka semua khawatir mendapatkan “lima pukulan dengan rotan.” Semua orang akan menjadi apatis.
.
Sebenarnya ada alternatif yang lebih bijaksana. Bisa saja ditanyakan pada si Bodoh, apakah menurutnya definisi operasi hitung “x” itu. Jikalau menurutnya, “x” adalah “kurangkan satu dan kemudian kalikan,” maka adalah benar bahwa 6 x 3 = 15. Dengan demikian, menurut si Bodoh, 6 x 3 pengertiannya adalah (6-1) lalu kalikan 3, maka hasilnya adalah 15. Meskipun ini “benar,” namun tidak sesuai dengan kelaziman. Mungkin si Bodoh punya konsep sendiri mengenai operasi hitung serta lambang-lambangnya. Jika definisinya sudah saling dipahami maka berbagai permasalahan akan jelas. Kendati demikian, si Bodoh juga seyogianya belajar operasi hitung yang lazim, yakni operasi hitung yang dianut oleh banyak orang berdasarkan perjanjian (konvensi). Kalau dia enggan menerima kelaziman, maka tentu sulit baginya hidup di tengah masyarakat (yang menganut kelaziman tersebut). Tetapi tentu saja itu adalah pilihan hidupnya sendiri.
.
Demikian kritikan saya terhadap kisah di atas, yang menurut saya tidak berisikan kebijaksanaan apa pun. Pandangan yang diwakili kisah di atas justru menjerumuskan seseorang pada apatisme. Tidak heran jika diktaktor-diktaktor bengis seperti Hitler, Stalin, Polpot bisa naik ke panggung negara, karena orang-orang baik secara tidak langsung mendukung mereka melalui berdiam diri.
.
Saya kira jika guru pada kisah di atas membaca artikel ini, bila ia benar-benar bijaksana maka tiada ia akan tersinggung sedikit pun. Oleh karenanya, jangan ada yang tersinggung membaca artikel ini. Guru bijaksana saja tidak tersinggung, lalu mengapa Anda yang tersinggung?

Sabtu, 06 Juni 2015

MENJADI PEJABAT: SEBUAH RENUNGAN

MENJADI PEJABAT: SEBUAH RENUNGAN

Ivan Taniputera
6 Juni 2015



Ada banyak orang yang bercita-cita menjadi pejabat. Apabila kita renungkan menjadi pejabat memang merupakan sesuatu yang sangat mulia. Pejabat adalah orang-orang yang bekerja demi kesejahteraan orang lain. Pejabat adalah abdi bagi orang lain. Tidakkah berkarya demi kesejahteraan orang lain dan mengabdi sesama adalah sesuatu yang mulia? Tentunya tidak akan ada orang yang menganggap bahwa hal tersebut bukan tindakan mulia. Apakah yang lebih mulia dibandingkan berkarya demi orang lain?

Kini pandangan kita layangkan pada seorang pejabat  di negeri antah berantah yang sebelumnya terkenal jujur dan tulus. Banyak orang mengelu-elukan Beliau sebagai pejabat yang bekerja dengan sungguh-sungguh demi rakyat. Bahkan Beliau pernah digadang-gadang hendak diangkat sebagai raja baru di negeri antah berantah. Tetapi tiba-tiba rakyat negeri antah-berantah dikejutkan bahwa pejabat tersebut dinyatakan sebagai tersangka tindak pidana korupsi. Berita itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong nan cerah. Tentu sang pejabat belum tentu bersalah. Kelak pengadilan yang akan membuktikan apakah Beliau bersalah atau tidak. Apakah ada konspirasi? Entahlah. Pun bukan tujuan artikel ini memperlihatkan bahwa ia bersalah atau tidak. Tujuan artikel ini adalah membangkitkan renungan kita.

Jikalau kira renungkan lebih jauh, meski menjadi pejabat itu sangat mulia, tetapi kedua kaki mereka masing-masing menginjak pintu gerbang surga dan satu lagi pintu gerbang neraka. Bagaimana bisa? Seorang pejabat akan menghadapi ribuan godaan, yang tak lain dan tak bukan adalah harta, kekuasaan, dan wanita. Seorang mungkin mengawali dengan setumpuk idealisme dan cita-cita mulia, namun siapakah yang tahan menyaksikan segepok uang? Sanggupkah seseorang menahan godaan dan tidak menggadaikan idealisme dan cita-cita mulianya tersebut. Mungkin hanya sedikit saja yang bertahan sampai akhir dan sanggup melangkah memasuki gerbang surga. Tetapi berapa banyak yang kehilangan cita-cita mulianya dan terjerumus ke dalam gerbang neraka? Marilah kita renungkan.

Seorang pejabat ibaratnya adalah sebatang pohon yang berada di puncak gunung. Terpaan angin godaan sungguh dashyat. Dapatkah pohon itu tetap bertahan kokoh dengan akar-akarnya. 

Kita tidak perlu menghujat, menghina, atau memaki orang lain. Jikalau berada di kedudukan atau keadaan yang sama, belum tentu juga kita dapat bertahan. Kita hendaknya justru merasa kasihan. Mereka ibaratnya adalah orang yang tersandung dan jatuh. Orang yang tersandung dan jatuh apakah harus kita hina dan maki-maki? 

Jangan sampai cita-cita mulia itu justru menyeret seseorang ke dalam neraka. Apabila kita ingin mengabdi pada sesama, maka tidak harus sebagai pejabat. Masih banyak lahan pengabdian lain, termasuk menulis dan berbagi pengalaman serta pengetahuan kita pada sesama. 



Setelah membaca artikel renungan ini, masihkah Anda ingin menjadi pejabat? 

Kamis, 04 Juni 2015

ILMU KEBERUNTUNGAN: MENGHARAPKAN YANG BURUK PADA ORANG LAIN SAMA DENGAN MENGHARAPKAN YANG BURUK PADA DIRI SENDIRI

ILMU KEBERUNTUNGAN: MENGHARAPKAN YANG BURUK PADA ORANG LAIN SAMA DENGAN MENGHARAPKAN YANG BURUK PADA DIRI SENDIRI

Ivan Taniputera
4 Juni 2015

Salah seorang teman berkonsultasi pada saya mengenai usaha tokonya yang sepi. Selama mengenal teman ini, saya mengetahui bahwa ia gemar memaki-maki atau mengata-ngatai pelanggan beserta orang yang kurang disukainya. Ia mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa mereka. 
Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini, marilah kita merenungkan apa dampak yang mungkin terjadi jika kita mengharapkan sesuatu yang buruk pada orang lain, dalam hal ini pelanggan atau rekan bisnis kita. 

Pertama-tama, seorang pengusaha atau pebisnis tidak akan bisa bertahan jika tidak ada pelanggannya. Seorang pengusaha memerlukan rekan bisnis agar dapat bertahan. Jika tidak ada rekan bisnis dari mana ia akan mendapatkan barang-barang yang dijualnya? Setiap orang saling membutuhkan satu sama lain. Ini adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri. Barangsiapa yang hendak memungkiri fakta ini, maka ia harus menghasilkan segala sesuatunya seorang diri; dari hulu ke hilir. Apakah ada yang sanggup?

Kedua, setiap pelanggan adalah potensial. Entah pelanggan itu disukai atau tidak, semuanya berpotensi memberikan keuntungan pada kita. 

Dengan demikian, bijaksanakah jika seorang pedagang atau pemilik toko mengharapkan yang buruk menimpa para pelanggannya, entah pelanggan disukai atau tidak? Mari kita renungkan sebagai berikut, seandainya harapan buruk orang tersebut pada langganan-langganannya terlaksana, dan mereka sungguh-sungguh menjadi bangkrut, bukankah pelanggan-pelanggannya akan hilang atau berkurang? Jika pelanggan-pelanggannya hilang atau berkurang bukankah bisnisnya sendiri akan merosot? Jika bisnisnya merosot, bukankah itu berarti bahwa kebangkrutan sudah berada di pintu gerbangnya sendiri? Dengan demikian, nampak nyata bahwa mengharapkan sesuatu yang buruk pada orang lain, sama denga mengharapkan yang buruk pada diri sendiri. Jadi mengharapkan sesuatu yang buruk pada orang lain adalah tidak bijaksana.

Seorang pelanggan hendaknya mengharapkan sesuatu yang baik pada semua orang. Jika semua orang hidup makmur, bukankah daya beli mereka akan meningkat. Dengan demikian, mereka berpeluang membeli semakin banyak di tokonya. Jika semakin banyak orang berbelanja di tokonya, bukankah ia akan bertambah makmur. Mengharapkan kesejahteraan pihak lain adalah berarti mengharapkan kesejahteraan bagi diri sendiri. 

Selanjutnya, secara logis, jika harapan buruk bagi orang lain, akan menghadirkan emosi-emosi negatif dalam pikiran dan batin kita. Dengan demikian, kemampuan kita dalam bekerja menjadi berkurang. Kita tidak akan sanggup lagi membaca peluang-peluang baik bisnis kita. Kita berpeluang mengambil keputusan-keputusan bisnis yang salah. Terlebih lagi, wajah akan menjadi tidak menyenangkan. Jika begitu, apakah orang senang berbisnis dengan kita? 

Menurut metafisika China, keberuntungan manusia itu bergantung pada tiga faktor, yakni Langit, Bumi, dan Manusia. Faktor Langit adalah nasib dibaca berdasarkan gerakan bintang-bintang (ilmu nasib atau astrologi). Berdasarkan ilmu pengetahuan modern, ini menyangkut faktor cuaca, iklim, keadaan ideologi-politik-ekonomi suatu negara, dan lain sebagainya. Faktor Bumi ini misalnya adalah Fengshui. Berdasarkan kacamata modern, mungkin mengacu pada strategis dan tidaknya suatu lokasi. Mudah dicapai atau tidak. Faktor manusia mengacu pada diri manusia itu sendiri, misalnya bagaimana ia berusaha, berpandangan, dan bersikap. 

Banyak orang hanya menitik-beratkan pada faktor Langit dan Bumi saja, tetapi lupa pada faktor Manusia. Padahal tidak jarang, faktor Manusia dapat menghapuskan keunggulan yang berasal dari kedua faktor lainnya. Sebagai contoh, seseorang hidup pada zaman perekonomian sedang baik dan mempunyai toko atau tempat usaha yang paling strategis di sebuah kota sangat ramai. Namun jika ia lebih suka bermalas-malasan dan jarang membuka tokonya, menurut Anda apakah ia akan menjadi pengusaha sukses? Jadi jangan lupa, faktor Manusia bagaimana pun juga amat sangat penting dan jangan dilupakan. Perhitungan Fengshui sehebat apa pun tidak akan bermanfaat bagi orang malas atau berkepribadian buruk. Termasuk gemar mengharapkan sesuatu yang buruk bagi orang lain. Semua faktor harus kita perhatikan dengan baik. 


ORANG YANG SERING MENDOAKAN ORANG LAIN MURAH REJEKI, MAKA DIRINYA PUN AKAN MURAH REJEKI. 

Semoga bermanfaat.



Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, petuah keberuntungan, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan metafisika, silakan kunjungi: