RENUNGAN BUAH CERI DAN PUDING: SUATU TELAAH FILSAFAT KULINER.
.
Ivan Taniputera.
18 Juni 2016
.
.
Hari
ini saya akan mengajak para pembaca sekalian merenungkan mengenai buah
ceri dan puding yang barangkali dapat mendatangkan manfaat dalam
kehidupan ini. Jikalau kita mencoba memandang dunia dari sisi buah ceri
sebagaimana tampak pada gambar di atas, maka wawasan buah ceri itu hanya
akan sebatas puding dan pinggiran gelas. Apabila buah ceri tidak
bersedia meluaskan wawasannya, maka hanya sebatas itu sajalah jangkauan
pandangannya. Ia hanya akan dibatasi oleh puding dan tepian gelas saja.
Tetapi jika ia bersedia memandang lebih jauh dari semua itu, maka
wawasannya juga akan luas.
.
Begitu
pula orang yang tidak bersedia meluaskan jangkauan pandangannya akan
mempunyai wawasan sempit dan terbatas. Wawasan semacam itu hanya akan
mengakibatkan keterbatasan bagi diri sendiri dan kegagalan memahami
segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih besar.
.
Bagi
ceri tersebut segala sesuatu hanya dinilai berdasarkan puding dan
tepian gelas. Ia mungkin tidak mengetahui bahwa masih banyak makanan
pencuci mulut lainnya, seperti es krim, es campur, nagasari, klepon, dan
lain sebagainya. Ia akan menganggap bahwa satu-satunya yang ada dan
benar adalah puding dan tepian gelas selaku pembatas cakrawala
pemahamannya. Pandangan sempit bisa mengakibatkan fanatisme membuta yang
tidak jarang menimbulkan bahaya besar bagi dunia ini.
.
Salah
satu perwujudannya adalah nasionalisme sempit dan xenofobia, yang telah
memicu perang-perang besar; begitu pula dengan penganiayaan karena
agama. Agama yang seharusnya mendatangkan perdamaian dan kebahagiaan
bagi umat manusia justru mengakibatkan pertumpahan darah. Semuanya
diakibatkan oleh ketidak mampuan meluaskan wawasan kita.
.
Misalkan
ada ceri lain yang telah melanglang dapur dan seluruh rumah makan
tersebut datang serta masuk ke dalam gelas tersebut, lalu berkata pada
ceri pertama bahwa masih terdapat hal-hal selain puding dan tepian
gelas, maka mungkin sekali ceri pertama tadi akan melabeli ceri kedua
sebagai sesat. Hal-hal di luar puding dan tepian gelas dianggap sebagai
tidak masuk akal oleh ceri pertama. Ceri kedua tadi pastilah sesat atau
gila karena mengatakan sesuatu yang tidak ada dari sudut pandang ceri
pertama. Jika ceri pertama cukup beruntung, maka ia akan bersedia dan
berani keluar dari gelas serta menjelajah sendiri seluruh dapur dan
rumah makan, bila perlu seluruh dunia beserta jagad raya, barulah dengan
demikian ia akan memahami keterbatasan pandangannya selama ini.
.
Namun
berapa banyak umat manusia yang seberuntung dan seberani ceri pertama
tadi? Seberapa banyak di antara umat manusia berani keluar dari
kungkungan batasan cakrawala pemahamannya selama ini? Marilah kita
renungkan.
Beberapa waktu yang lalu saya menampilkan teka teki labirin berikut ini.
.
.
Carilah
jalan dari tanda panah hijau bertulisan “mulai” menuju ke “tujuan” di
bagian tengah. Semua orang yang mencoba memecahkan teka-teki ini
mengalami kebuntuan. Sebenarnya, tujuan teka-teki labirin ini adalah
mengajak kita semua merenungkan beberapa pelajaran berharga.
.
Sebelumnya, saya akan memuat terlebih dahulu gambar jawaban teka-teki labirin di atas.
.
Jadi
jelas sekali, jika Anda cermat dan sanggup menemukan garis-garis
berwarna biru di atas, maka nampak bahwa “tujuan” itu mustahil dicapai.
Bagian “tujuan” itu sebenarnya tertutup atau terhalang dari semua sisi.
Dengan demikian, “tujuan” itu tidak mungkin dicapai dari mana pun juga
(dalam hal ini dari arah luar). Garis berwarna oranye memperlihatkan
bahwa ke arah mana pun Anda bergerak, akhirnya akan kembali ke titik
“mulai” lagi.
.
Apakah pelajaran yang dapat kita ambil?
.
Pertama,
banyak orang (atau mungkin semua orang) menjadikan “kebahagiaan”
sebagai tujuan dalam hidupnya. Siapakah yang tidak ingin bahagia? Namun
tidak sedikit orang menjadikan sesuatu di luar dirinya sebagai sumber
kebahagiaan. Aku akan merasa bahagia kalau sudah mempunyai ini atau itu.
Tetapi semua itu, ternyata tidak menjadikannya bahagia, karena
keinginan manusia itu ibarat sumur tidak berdasar. Meski telah
mendapatkan sesuatu, seseorang pasti mendambakan hal lainnya lagi.
Sesudah lulus SD, orang ingin lulus SMP. Sesudah lulus SMP, seseorang
ingin lulus SMU. Setelah mendapatkan ini, ia ingin mendapatkan itu.
Polanya terus berulang bagaikan lingkaran setan. Ia terus terjerumus
pada keinginan berikutnya, yakni suatu proses yang berlangsung sepanjang
kehidupannya. Tujuan berupa kebahagiaan itu terus menerus ingin
dicapainya, namun tidak pernah berhasil. Ia terus menerus berputar-putar
mencari tujuan itu, namun anehnya tetap kembali ke titik awal. Hal
inilah yang digambar oleh garis-garis oranye pada gambar di atas. Ke
manapun Anda pergi, Anda akan tiba pada titik awal.
.
Akhirnya,
ia menyadari bahwa kebahagiaan itu tidak bisa dicapai dari luar.
Kebahagiaan itu seharusnya sudah ada di dalam, hanya saja terdapat
tembok pemisah yang tidak tertembus.
.
Pelajaran
kedua, terkadang pemecahan suatu masalah itu justru berada pada titik
awal masalah itu sendiri. Ke mana pun Anda berlari mencari pemecahannya,
Anda akhirnya pada titik awal pencarian Anda.
.
Begitu
pula orang yang mencari suatu pencerahan spiritual, akhirnya harus
kembali pada dirinya sendiri. Pencerahan spiritual di luar dirinya
adalah sesuatu yang mustahil. Akhir pencarian akhirnya adalah diri
sendiri., yakni titik awal pencarian itu sendiri.
.
Demikianlah renungan berharga berasal dari teka-teki labirin ini. Selamat berakhir pekan.
Gemar
beramal (berdana) serta mempunyai moral yang bajik, sanggup
mengendalikan hawa nafsu keinginan dan mempunyai kemampuan
mengendalikan diri, adalah kumpulan harta terbaik bagi seorang wanita
ataupun pria. Harta tersebut dapat diperoleh melalui kebajikan, yang
ditujukan pada tempat-tempat ibadah atau komunitas para biarawan
(Sangha), terhadap orang lain atau tamu, terhadap Ibu dan Ayah atau
seseorang lebih tua usianya. (Nidhikanda Sutta).
.
Tetapi
kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak
merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di
mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Matius 6:20-21, LAI).
.
Baru-baru
ini di kota kelahiran saya dihebohkan oleh penipuan berupa investasi
abal-abal yang merugikan banyak orang. Pelakunya telah melarikan diri
dan kasus ini telah dilaporkan pada polisi.
.
Banyak
orang tergiur oleh investasi yang menjanjikan keuntungan luar biasa
besar. Karena mengharapkan keuntungan dengan mudah tanpa perlu kerja
keras itulah banyak orang tertipu dan berakhir dengan penyesalan.
.
Sesungguhnya adakah investasi yang aman dan sanggup menghasilkan keberuntungan besar? Tentu saja ada.
.
Terdapat
dua investasi yang menguntungkan dan aman. Yang pertama adalah
investasi di ladang kebajikan; sedangkan yang kedua adalah investasi di
ladang pengetahuan.
.
Dalam
berbuat kebajikan kita tidak mengharapkan suatu hasil atau balasan
tertentu. Kita hanya tahu bahwa kebajikan itu adalah sesuatu yang
bermanfaat. Apa yang kita tanam tidak ada sesuatu pun dapat merusak
atau mencurinya. Kurang aman apa lagi?
.
Pengetahuan
yang telah kita tanam dalam diri kita sendiri juga tidak dapat dicuri
atau diambil oleh seorang pun. Adalah tidak masuk akal serta mustahil
apabila seseorang mencuri apa yang kita ketahui dan sesudah itu kita
serta merta tidak mengetahuinya lagi. Adakah yang lebih aman
dibandingkan investasi ini?
.
Oleh karenanya, sungguh aneh jika lebih banyak orang memilih investasi yang tidak aman.
HAL TERBAIK BAGI KITA MUNGKIN JUSTRU YANG TIDAK MENYENANGKAN
.
Ivan Taniputera
17 Oktober 2015
.
.
Pada
kesempatan kali ini, saya akan membagikan sesuatu yang barangkali
bermanfaat bagi kita semua. Artikel kali ini ditulis berdasarkan
pengalaman nyata seorang sahabat yang diceritakan pada saya. Untuk
melindungi privasi, maka nama-nama tidak akan disebutkan dan ceritanya
sedikit diubah. Namun intisarinya tetap sama.
.
Kebanyakan
di antara kita merasa kesal atau marah jika mengalami sesuatu yang
tidak menyenangkan atau tidak kita harapkan. Tetapi apakah kita pernah
menyadari bahwa hal tidak menyenangkan atau tidak diharapkan tersebut
justru akan mendatangkan kebaikan pada kita?
.
Suatu
kali seorang sahabat diundang menghadiri pesta pernikahan kenalannya.
Sewaktu sedang duduk menikmati hidangan, tiba-tiba tiang penyangga tenda
jatuh dan menimpa orang yang duduk tepat di sebelahnya hingga luka
parah.
.
Sampai
di sini, kita akan melakukan kilas balik terhadap peristiwa yang
terjadi sebelumnya. Biasanya saat menghadiri undangan pesta, maka kawan
saya akan ditemani oleh suami atau anaknya. Namun hari itu, suami
sahabat saya tersebut mendapatkan tugas kantor mendadak, sehingga batal
menemaninya ke pesta. Meski merasa kecewa, kini harapan beralih pada
anaknya. Meskipun demikian, saat menjelang keberangkatan ke pesta
tiba-tiba teman sang anak menelepon dan mengajaknya jalan-jalan ke mall.
Ternyata sang anak lebih memilih pergi bersama temannya, sehingga batal
menemani ibunya ke pesta.
.
Akhirnya
dengan disertai perasaan sedih, marah, dan kecewa, sahabat saya
berangkat sendiri ke pesta. Kini kembali ke saat pesta tersebut. Sahabat
saya lantas merenungkan bahwa jika ia berangkat bersama suami atau
anaknya, maka yang duduk di sampingnya dan tertimpa tiang itu
kemungkinan adalah suami, anak, atau bahkan dirinya sendiri. Dengan
mengalami rangkaian peristiwa tidak menyenangkan itu, justru diri dan
keluarganya selamat.
.
Berdasarkan
kisah di atas, marilah kita merenungkan apakah kita perlu merasa marah
dan kesal berkepanjangan tatkala sesuatu tidak terjadi sesuai kehendak
kita?
.
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, metafisika, dan lain-lain, silakan kunjungi:
Saya akan melakukan telaah kritis pada kisah yang baru saja saya jumpai. Secara ringkas kisahnya adalah sebagai berikut:
.
Ada
dua orang murid, sebut saja si Pandai dan si Bodoh sedang berdebat. Si
Pandai mengatakan bahwa 6 x 3 adalah 18; sedangkan si Bodoh dengan yakin
menyatakan bahwa 6 x 3 adalah 15. Mereka terus menerus berdebat dan
bermaksud menyelesaikan perdebatan itu dengan bertanya pada guru yang
mereka segani.
.
Demikianlah
si Pandai dan si Bodoh lalu berkunjung ke tempat kediaman guru. Si
Pandai menyatakan bahwa jika dirinya salah maka ia bersedia menerima
hukuman 5 kali pukulan dengan rotan. Si Bodoh tidak mau kalah dan
menyatakan bahwa jika dirinya yang salah, maka ia bersedia dipenggal.
.
Tanpa
pikir panjang, guru menjatuhkan hukuman lima kali pukulan dengan rotan
pada si Pandai. Si Pandai tentu saja memprotes hal tersebut dan guru
menjawab bahwa hukuman itu bukan dikarenakan jawabannya, melainkan
akibat perdebatannya dengan orang bodoh yang tidak mengetahui bahwa 6 x 3
= 18. Guru menganggap bahwa perdebatan itu tidak berguna. Dengan
melakukan hal itu, ia telah mendidik agar si Pandai menjadi lebih arif
dan menyelamatkan nyawa si Bodoh.
.
Menurut
saya kisah di atas mengandung banyak kelemahan dan sama sekali tidak
dapat disebut sebagai kisah bijaksana. Guru itu sama sekali tidak
bijaksana.
.
Karena
kisah di atas menggunakan berhitung atau matematika sebagai analogi,
dimana matematika adalah ilmu pasti, maka secara aturan konvensional 6 x
3 hanya mempunyai satu jawaban, yakni 18. Enam kali tiga berarti 3 + 3
+ 3 + 3 + 3 + 3, yang tentu saja jawabannya sekali lagi adalah 18. Jika
guru itu paham matematika, maka ia tentu tahu hal tersebut. Secara
konvensional 6 x 3 tidak mungkin 15. Tugas seorang guru adalah
menyebarkan kebenaran, termasuk kebenaran matematika atau berhitung.
.
Menghukum
murid yang memberikan jawaban benar adalah seolah-olah menyalahkan
jawaban tersebut. Jadi guru itu seolah-olah mendukung jawaban yang
salah.
.
Jika
si Bodoh yang merasa bangga dengan pandangan salahnya tersebut (karena
dibenarkan oleh guru), lalu menyebarkan pandangannya tersebut, tentunya
akan sangat berbahaya. Ia bisa saja membujuk orang lain meyakini
pandangan salah itu dengan menyatakan bahwa guru bijaksana yang
dihormati banyak orang saja sudah mendukungnya. Dalam sejarah banyak
pandangan salah yang mengakibatkan penderitaan bagi banyak orang meraja
lela, karena tidak ada orang bertindak memotong pandangan salah tersebut
dari awalnya. Untungnya dalam kisah di atas yang dibicarakan adalah 6 x
3, bagaimana bila perdebatannya mengenai “membasmi orang yang beda
keyakinan dengan kita adalah benar atau salah”? Bagaimana jika si Bodoh
menyatakan bahwa “membasmi orang yang beda keyakinan dengan kita adalah
benar” sedangkan si Pandai menyatakan hal sebaliknya”? Akankah guru
masih menjatuhkan 5 kali pukulan pada si Pandai? Menurut pandangan saya,
kebenaran harus tetap didukung, entah menyenangkan atau tidak
menyenangkan.
.
Bagaimana
jika si Bodoh harus kehilangan kepala karena pandangan salahnya itu?
Biarkan saja orang bodoh binasa karena kebodohannya sendiri. Itu adalah
pilihannya sendiri. Namun guru dapat mengampuni si Bodoh dan
menasihatinya agar jangan mengambil tindakan berisiko yang bodoh lagi.
Dengan demikian, guru tetap mendukung kebenaran dan juga menyelamatkan
nyawa si Bodoh. Dengan menyelamatkan nyawanya, si Bodoh mungkin pada
lain kesempatan bisa lebih bijaksana, dan kelak namanya mungkin akan
berganti menjadi si Pandai II. Ia bukan lagi si Bodoh yang dulu.
.
Namun
dengan melakukan tindakan seperti itu, guru yang katanya bijaksana itu
justru tidak menyelamatkan si Bodoh. Si Bodoh akan tetap hidup dalam
kebodohannya. Guru itu telah bersikap apatis dan menurut saya tidak bisa
dikatakan bijaksana.
.
Sebagai
tambahan, kelemahan kisah ini adalah bagaimana jika si Pandai dan si
Bodoh sama-sama menghendaki hukuman dipenggal jika bersalah? Masihkah
guru akan menghukum si Pandai?
.
Selanjutnya,
tindakan si Pandai yang mau mempertahankan kebenaran di hadapan si
Bodoh bukan dianggap sebagai tindakan yang tidak berguna. Ia mau
melakukan sesuatu untuk mengoreksi pandangan salah. Kejahatan dapat
merajalela karena orang baik menolak melakukan sesuatu. Kejahatan
bersimaharaja karena orang baik bersikap apatis. Oscar Schindler pada
masa PD II berani berkata tidak pada kekejaman dan menyelamatkan ribuan
nyawa. Paul Rusesabagina berani berkata tidak pada kekejaman dan
menyelamatkan nyawa kaum Hutu yang terancam pembantaian keji.
.
Jadi
upaya si Pandai itu menurut saya sudah benar dan tidak dapat dikatakan
sebagai perdebatan tidak bermanfaat. Ia sudah berupaya mengoreksi
ketidak-benaran dan tidak bersikap apatis. Bisa saja ia bersikap masa
bodoh dan membiarkan si Bodoh dengan pandangan salahnya. Namun itu tidak
dilakukannya. Lalu atas dasar apa, guru layak memberikan hukuman 5
pukulan? Jika semua orang menganut pemikiran guru tersebut, maka tidak
ada orang yang akan berani mengungkapkan kebenaran. Mereka semua
khawatir mendapatkan “lima pukulan dengan rotan.” Semua orang akan
menjadi apatis.
.
Sebenarnya
ada alternatif yang lebih bijaksana. Bisa saja ditanyakan pada si
Bodoh, apakah menurutnya definisi operasi hitung “x” itu. Jikalau
menurutnya, “x” adalah “kurangkan satu dan kemudian kalikan,” maka
adalah benar bahwa 6 x 3 = 15. Dengan demikian, menurut si Bodoh, 6 x 3
pengertiannya adalah (6-1) lalu kalikan 3, maka hasilnya adalah 15.
Meskipun ini “benar,” namun tidak sesuai dengan kelaziman. Mungkin si
Bodoh punya konsep sendiri mengenai operasi hitung serta
lambang-lambangnya. Jika definisinya sudah saling dipahami maka berbagai
permasalahan akan jelas. Kendati demikian, si Bodoh juga seyogianya
belajar operasi hitung yang lazim, yakni operasi hitung yang dianut oleh
banyak orang berdasarkan perjanjian (konvensi). Kalau dia enggan
menerima kelaziman, maka tentu sulit baginya hidup di tengah masyarakat
(yang menganut kelaziman tersebut). Tetapi tentu saja itu adalah pilihan
hidupnya sendiri.
.
Demikian
kritikan saya terhadap kisah di atas, yang menurut saya tidak berisikan
kebijaksanaan apa pun. Pandangan yang diwakili kisah di atas justru
menjerumuskan seseorang pada apatisme. Tidak heran jika
diktaktor-diktaktor bengis seperti Hitler, Stalin, Polpot bisa naik ke
panggung negara, karena orang-orang baik secara tidak langsung mendukung
mereka melalui berdiam diri.
.
Saya
kira jika guru pada kisah di atas membaca artikel ini, bila ia
benar-benar bijaksana maka tiada ia akan tersinggung sedikit pun. Oleh
karenanya, jangan ada yang tersinggung membaca artikel ini. Guru
bijaksana saja tidak tersinggung, lalu mengapa Anda yang tersinggung?
Ada banyak orang yang bercita-cita menjadi pejabat. Apabila kita renungkan menjadi pejabat memang merupakan sesuatu yang sangat mulia. Pejabat adalah orang-orang yang bekerja demi kesejahteraan orang lain. Pejabat adalah abdi bagi orang lain. Tidakkah berkarya demi kesejahteraan orang lain dan mengabdi sesama adalah sesuatu yang mulia? Tentunya tidak akan ada orang yang menganggap bahwa hal tersebut bukan tindakan mulia. Apakah yang lebih mulia dibandingkan berkarya demi orang lain?
Kini pandangan kita layangkan pada seorang pejabat di negeri antah berantah yang sebelumnya terkenal jujur dan tulus. Banyak orang mengelu-elukan Beliau sebagai pejabat yang bekerja dengan sungguh-sungguh demi rakyat. Bahkan Beliau pernah digadang-gadang hendak diangkat sebagai raja baru di negeri antah berantah. Tetapi tiba-tiba rakyat negeri antah-berantah dikejutkan bahwa pejabat tersebut dinyatakan sebagai tersangka tindak pidana korupsi. Berita itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong nan cerah. Tentu sang pejabat belum tentu bersalah. Kelak pengadilan yang akan membuktikan apakah Beliau bersalah atau tidak. Apakah ada konspirasi? Entahlah. Pun bukan tujuan artikel ini memperlihatkan bahwa ia bersalah atau tidak. Tujuan artikel ini adalah membangkitkan renungan kita.
Jikalau kira renungkan lebih jauh, meski menjadi pejabat itu sangat mulia, tetapi kedua kaki mereka masing-masing menginjak pintu gerbang surga dan satu lagi pintu gerbang neraka. Bagaimana bisa? Seorang pejabat akan menghadapi ribuan godaan, yang tak lain dan tak bukan adalah harta, kekuasaan, dan wanita. Seorang mungkin mengawali dengan setumpuk idealisme dan cita-cita mulia, namun siapakah yang tahan menyaksikan segepok uang? Sanggupkah seseorang menahan godaan dan tidak menggadaikan idealisme dan cita-cita mulianya tersebut. Mungkin hanya sedikit saja yang bertahan sampai akhir dan sanggup melangkah memasuki gerbang surga. Tetapi berapa banyak yang kehilangan cita-cita mulianya dan terjerumus ke dalam gerbang neraka? Marilah kita renungkan.
Seorang pejabat ibaratnya adalah sebatang pohon yang berada di puncak gunung. Terpaan angin godaan sungguh dashyat. Dapatkah pohon itu tetap bertahan kokoh dengan akar-akarnya.
Kita tidak perlu menghujat, menghina, atau memaki orang lain. Jikalau berada di kedudukan atau keadaan yang sama, belum tentu juga kita dapat bertahan. Kita hendaknya justru merasa kasihan. Mereka ibaratnya adalah orang yang tersandung dan jatuh. Orang yang tersandung dan jatuh apakah harus kita hina dan maki-maki?
Jangan sampai cita-cita mulia itu justru menyeret seseorang ke dalam neraka. Apabila kita ingin mengabdi pada sesama, maka tidak harus sebagai pejabat. Masih banyak lahan pengabdian lain, termasuk menulis dan berbagi pengalaman serta pengetahuan kita pada sesama.
Setelah membaca artikel renungan ini, masihkah Anda ingin menjadi pejabat?
ILMU KEBERUNTUNGAN: MENGHARAPKAN YANG BURUK PADA ORANG LAIN SAMA DENGAN MENGHARAPKAN YANG BURUK PADA DIRI SENDIRI
Ivan Taniputera
4 Juni 2015
Salah seorang teman berkonsultasi pada saya mengenai usaha tokonya yang sepi. Selama mengenal teman ini, saya mengetahui bahwa ia gemar memaki-maki atau mengata-ngatai pelanggan beserta orang yang kurang disukainya. Ia mengharapkan sesuatu yang buruk menimpa mereka.
Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini, marilah kita merenungkan apa dampak yang mungkin terjadi jika kita mengharapkan sesuatu yang buruk pada orang lain, dalam hal ini pelanggan atau rekan bisnis kita.
Pertama-tama, seorang pengusaha atau pebisnis tidak akan bisa bertahan jika tidak ada pelanggannya. Seorang pengusaha memerlukan rekan bisnis agar dapat bertahan. Jika tidak ada rekan bisnis dari mana ia akan mendapatkan barang-barang yang dijualnya? Setiap orang saling membutuhkan satu sama lain. Ini adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri. Barangsiapa yang hendak memungkiri fakta ini, maka ia harus menghasilkan segala sesuatunya seorang diri; dari hulu ke hilir. Apakah ada yang sanggup?
Kedua, setiap pelanggan adalah potensial. Entah pelanggan itu disukai atau tidak, semuanya berpotensi memberikan keuntungan pada kita.
Dengan demikian, bijaksanakah jika seorang pedagang atau pemilik toko mengharapkan yang buruk menimpa para pelanggannya, entah pelanggan disukai atau tidak? Mari kita renungkan sebagai berikut, seandainya harapan buruk orang tersebut pada langganan-langganannya terlaksana, dan mereka sungguh-sungguh menjadi bangkrut, bukankah pelanggan-pelanggannya akan hilang atau berkurang? Jika pelanggan-pelanggannya hilang atau berkurang bukankah bisnisnya sendiri akan merosot? Jika bisnisnya merosot, bukankah itu berarti bahwa kebangkrutan sudah berada di pintu gerbangnya sendiri? Dengan demikian, nampak nyata bahwa mengharapkan sesuatu yang buruk pada orang lain, sama denga mengharapkan yang buruk pada diri sendiri. Jadi mengharapkan sesuatu yang buruk pada orang lain adalah tidak bijaksana.
Seorang pelanggan hendaknya mengharapkan sesuatu yang baik pada semua orang. Jika semua orang hidup makmur, bukankah daya beli mereka akan meningkat. Dengan demikian, mereka berpeluang membeli semakin banyak di tokonya. Jika semakin banyak orang berbelanja di tokonya, bukankah ia akan bertambah makmur. Mengharapkan kesejahteraan pihak lain adalah berarti mengharapkan kesejahteraan bagi diri sendiri.
Selanjutnya, secara logis, jika harapan buruk bagi orang lain, akan menghadirkan emosi-emosi negatif dalam pikiran dan batin kita. Dengan demikian, kemampuan kita dalam bekerja menjadi berkurang. Kita tidak akan sanggup lagi membaca peluang-peluang baik bisnis kita. Kita berpeluang mengambil keputusan-keputusan bisnis yang salah. Terlebih lagi, wajah akan menjadi tidak menyenangkan. Jika begitu, apakah orang senang berbisnis dengan kita?
Menurut metafisika China, keberuntungan manusia itu bergantung pada tiga faktor, yakni Langit, Bumi, dan Manusia. Faktor Langit adalah nasib dibaca berdasarkan gerakan bintang-bintang (ilmu nasib atau astrologi). Berdasarkan ilmu pengetahuan modern, ini menyangkut faktor cuaca, iklim, keadaan ideologi-politik-ekonomi suatu negara, dan lain sebagainya. Faktor Bumi ini misalnya adalah Fengshui. Berdasarkan kacamata modern, mungkin mengacu pada strategis dan tidaknya suatu lokasi. Mudah dicapai atau tidak. Faktor manusia mengacu pada diri manusia itu sendiri, misalnya bagaimana ia berusaha, berpandangan, dan bersikap.
Banyak orang hanya menitik-beratkan pada faktor Langit dan Bumi saja, tetapi lupa pada faktor Manusia. Padahal tidak jarang, faktor Manusia dapat menghapuskan keunggulan yang berasal dari kedua faktor lainnya. Sebagai contoh, seseorang hidup pada zaman perekonomian sedang baik dan mempunyai toko atau tempat usaha yang paling strategis di sebuah kota sangat ramai. Namun jika ia lebih suka bermalas-malasan dan jarang membuka tokonya, menurut Anda apakah ia akan menjadi pengusaha sukses? Jadi jangan lupa, faktor Manusia bagaimana pun juga amat sangat penting dan jangan dilupakan. Perhitungan Fengshui sehebat apa pun tidak akan bermanfaat bagi orang malas atau berkepribadian buruk. Termasuk gemar mengharapkan sesuatu yang buruk bagi orang lain. Semua faktor harus kita perhatikan dengan baik.
ORANG YANG SERING MENDOAKAN ORANG LAIN MURAH REJEKI, MAKA DIRINYA PUN AKAN MURAH REJEKI.
Semoga bermanfaat.
Artikel menarik lainnya mengenai ramalan, Astrologi, petuah keberuntungan, Fengshui, Bazi, Ziweidoushu, dan metafisika, silakan kunjungi: