Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 November 2017

TROTOAR DI JERMAN

TROTOAR DI JERMAN.
.
Ivan Taniputera.
7 November 2017.
.
Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit menuliskan mengenai trotoar di Jerman. Dalam bahasa Jerman, trotoar disebut Fußgängerweg (cara baca: Fussgengerweg). Secara etimologis istilah tersebut dapat kita uraikan sebagai berikut. Fuß berarti “kaki.” Aksara seperti huruf Yunani beta (ß) dalam bahasa Jerman dibaca ss. Jadi Fuß dibaca “fuss.” Gänger berarti “pejalan.” Aksara ä atau a dengan Umlaut (titik dua di atasnya) dibaca e seperti pada kata “ember.” Weg berarti “jalan.” Jadi Fußgängerweg berarti “jalan bagi pejalan kaki.” Dengan demikian, berdasarkan etimologi tersebut Fußgängerweg diperuntukkan hanya bagi para pejalan kaki. Meskipun demikian, terkadang jika tempatnya cukup lebar, terdapat pula jalur khusus yang diperuntukkan bagi pengendara sepeda. Jalur tersebut akan ditandai dengan gambar sepeda. Di Jerman bahkan sepeda tidak boleh dipergunakan di Fußgängerweg yang tidak mempunyai jalur sepeda, apalagi sepeda motor. Kalau tidak salah, pengendara sepeda sekali pun jika melanggar juga akan ditilang dan harus membayar denda. Kita tidak akan pernah menyaksikan sepeda motor menyerobot jalan bagi pejalan kaki di Jerman.
.
Menurut pengamatan saya, trotoar atau Fußgängerweg di Jerman sangat rapi, bersih dan teratur. Orang tidak boleh berjualan di Fußgängerweg. Oleh karenanya, pejalan kaki sangat dihormati dan dihargai di Jerman. Kendati demikian, para pejalan kaki juga harus mematuhi peraturan lalu lintas. Saat lampu merah bagi pejalan kaki menyala, mereka juga harus berhenti hingga lampu menyala hijau. Barulah setelah itu mereka boleh melanjutkan berjalan menyeberang.
.
Demikian sekilas perkenalan kita dengan trotoar di Jerman.

Senin, 08 Agustus 2016

KERETA API YANG MENGUBAH JALANNYA SEJARAH DUNIA

KERETA API YANG MENGUBAH JALANNYA SEJARAH DUNIA.
.
Ivan Taniputera. 
7 Juli 2016
.
Malam itu, sebuah kereta api berjalan terseok-seok melintasi jantung benua Eropa. Ketika itu, Perang Dunia I sedang berkecamuk dengan hebatnya. Berangkat dari Zürich, Swiss, kereta itu melintasi Jerman, Swedia, dan akhirnya tiba Petrograd, Rusia. Kereta api itu akan menentukan jalannya sejarah dunia berdasawarsa-dasawarsa kemudian. Di dalamnya ternyata terdapat penumpang yang akan menjadi salah satu penentu berputarnya roda sejarah. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Vladimir Ilyich Ulyanov atau yang lebih dikenal sebagai Lenin.
.
Lenin terpaksa meninggalkan negaranya karena menentang czar Rusia. Ia hidup di pengasingannya, yakni di Swiss, semenjak 1900. Perang Dunia I pecah pada tahun 1914. Kekaisaran Jerman (Deutsches Reich, German Empire) dengan sekutunya Kekaisaran Austria Hongaria melawan Rusia beserta sekutu-sekutunya. Jerman ketika itu terpaksa berperang di dunia medan, yakni barat dan timur, sehingga sangat terkuras tenaganya.
.
Rusia, musuh Jerman, juga terkuras segenap sumber dayanya, sehingga mengalami kelaparan. Februari 1917, pecah revolusi di Petrograd. Para pekerja mogok karena kekurangan makanan dan merosotnya industri Rusia. Kekacauan pecah di mana-mana. Pemerintahan czar Rusia sudah kehilangan wibawanya. Lenin memandang hal ini sebagai kesempatan turut serta mengorganisasi massa menumbangkan czar.
.
Namun perjalanan pulang ke Rusia harus melewati wilayah Jerman, dimana jalur kereta api ke sana ditutup akibat perang. Menyadari bahwa Lenin beserta tiga puluh satu kaum revolusioner lainnya berpeluang menumbangkan czar Rusia, sehingga meringankan beban Jerman di medan perang Timur, pemerintah Jerman lantas melakukan perjudian politik berbahaya. Mereka memberikan izin khusus bagi Lenin beserta istri dan kawan-kawannya melintasi wilayah Jerman.
.
Demikianlah, kereta itu melaju di tengah-tengah gejolak perang. Setibanya kembali di tanah airnya, Lenin berhasil mengorganisasi para pendukungnya, yang dikenal sebagai kaum Bolshevik. Singkat cerita, setelah melalui serangkaian pergolakan berdarah, Rusia akhirnya menjelma menjadi Uni Sovyet.
.
Kereta api itu telah menjadi penentu sejarah. Jika pemerintah Jerman tidak memberikan izin bagi Lenin melintasi wilayahnya, maka kemungkinan besar tidak akan ada Perang Dingin, tidak akan ada Tembok Berlin, tidak akan ada Perang Vietnam, tidak akan ada Korea Utara dan Selatan, Jerman tidak akan terbagi dua. Tidak akan ada Republik Rakyat China. Jutaan rakyat Kamboja tidak akan mati sia-sia di bawah Pol Pot.
.
Jika Lenin tidak kembali ke Petrograd, kemungkinan skenario-skenario ini yang akan terjadi. Rusia bisa saja tetap menjadi kekaisaran, walaupun peluangnya kecil. Czar Nicholas II sudah pasti akan turun tahta dan digantikan oleh saudaranya, Adipati Agung (Grand duke) Michael. Namun pada kenyataannya, parlemen (duma) menolak hal tersebut dan Adipati Agung Michael sendiri juga menyatakan ketidak-sediaannya menjadi czar. Dengan demikian, kecil sekali peluang sistim kekaisaran atau monarki dapat bertahan. Kemungkinan lain yang lebih masuk akal adalah Rusia akan menjadi republik, seperti Jerman dan Austria, dengan Alexander Kerensky menjadi presiden atau perdana menterinya. Namun yang pasti dunia tidak akan mengalami Perang Dingin.

Jumat, 22 Juli 2016

SEKELUMIT KISAH SEPUTAR RUNTUHNYA TEMBOK BERLIN

SEKELUMIT KISAH SEPUTAR RUNTUHNYA TEMBOK BERLIN.
.
Ivan Taniputera.
22 Juli 2016.
.
Saat saya menginjakkan kaki di Jerman pada tahun 1993, Tembok Berlin memang sudah runtuh empat tahun sebelumnya (1989). Namun pascakeruntuhan Tembok Berlin menyisakan berbagai kisah menarik. Agar tidak lupa saya akan menuliskan beberapa kisah tersebut. Sebelumnya saya akan mengulas terlebih dahulu apa yang dimaksud Tembok Berlin dan bagaimanakah sejarahnya.
.
Tembok Berlin atau dalam bahasa Jerman disebut Berliner Mauer merupakan tembok yang dibangun oleh pemerintah Jerman Timur (disebut juga Republik Demokrasi Jerman atau Deutsche Demokratische Republik-disingkat DDR) mengelilingi wilayah Berlin Barat agar warganya tidak melarikan diri ke kawasan tersebut. Berlin Barat adalah wilayah Jerman Barat (disebut juga Republik Federal Jerman atau Bundesrepublik Deutschland-disingkat BRD) yang berada di tengah-tengah wilayah Jerman Timur. Untuk jelasnya silakan perhatikan peta sebagai berikut.
.

.
Agar dapat memahami peta di atas, maka kita perlu sedikit mengulas sejarahnya. Jerman mengalami kekalahan pada Perang Dunia II dan wilayahnya diduduki oleh Sekutu. Wilayah Jerman secara keseluruhan dibagi menjadi empat daerah pendudukan, yakni zona pendudukan Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Uni Sovyet. Sementara itu, ibu kota Berlin yang terletak di tengah-tengah zona pendudukan Uni Sovyet juga diduduki secara bersama-sama oleh empat kekuatan pemenang perang. Dengan demikian, Berlin juga dibagi menjadi empat zona pendudukan, sebagaimana telah disebutkan di atas.
.
Kendati perang dunia yang berdarah-darah telah usai, ternyata benih-benih permusuhan baru akan segera muncul, yakni antara kubu Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis dengan kubu Uni Sovyet. Kelak perang ini akan disebut Perang Dingin.
.
Belakangan, zona pendudukan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis digabungkan menjadi Republik Federal Jerman atau Jerman Barat. Sedangkan zona pendudukan Uni Sovyet diproklamirkan menjadi Republik Demokrasi Jerman atau Jerman Timur, yang tentunya dengan dukungan Uni Sovyet. Dengan berdirinya kedua negara ini, maka Berlin Barat yang merupakan bagian Jerman Barat menjadi semacam pulau (enclave) dikepung atau dikelilingi oleh wilayah Jerman Timur.
.
Jerman Timur menjadi negara totaliter dengan SED (Sozialistische Einheitspartei Deutschland) yang berhaluan komunis menjadi partai penguasa di sana. Karena kehidupan yang serba terkekang banyak warganya ingin melarikan diri ke Barat, terutama dari Berlin Timur ke Barat. Demi mencegah warganya melarikan diri, maka pemerintah Jerman Timur membangun tembok mengelilingi Berlin Barat. Begitulah sejarah asal mula berdirinya Tembok Berlin yang oleh sebagian sejarawan dijadikan tonggak awal Perang Dingin. Barangsiapa yang berani menyeberangi tembok itu akan ditembak atau mengalami nasib mengerikan. Banyak korban berjatuhan karena nekat menyeberangi tembok tersebut demi mendapatkan kebebasan di Barat.
.
Jerman baru bersatu kembali tahun 1989. Tembok Berlin runtuh. Runtuhnya Tembok Berlin dan bersatunya kembali Jerman ini tidak terlepas dari peranan Gorbachev yang meluncurkan glasnost dan perestroika. Uni Sovyet tidak bersedia lagi mendukung rezim Jerman Timur yang represif. Demonstrasi besar-besaran menuntut demokrasi meledak di berbagai kawasan Jerman Timur. Mereka menuntut kebebasan dan ketika gelombang prodemokrasi tak terbendung lagi, pemerintah Jerman Timur terpaksa menyerah pada kehendak rakyatnya. Tindakan represif tidak lagi dapat menahan dambaan warganya dalam menghirup kebebasan. Jerman Timur atau DDR ambruk dan kini tinggal kenangan. Perbatasan kedua negara dapat dilalui dengan bebas.
.
Berikut ini adalah kisah yang dituturkan oleh kawan-kawan mahasiswa senior, dimana mereka sudah lebih dahulu berada di Jerman dan sempat menjadi saksi mata runtuhnya Tembok Berlin.
.
Pada hari pembukaan tembok, warga Berlin Timur berbondong-bondong datang ke Berlin Barat dan mereka masing-masing menerima Uang Selamat Datang (Begrussungsgeld) kalau tidak salah sebesar 10 DM. Mereka lalu menyerbu toko-toko di Berlin Barat guna membelanjakan uang tersebut. Hari itu kota Berlin begitu ramainya. Barang-barang yang di Barat dipandang biasa saja, ternyata dianggap kemewahan bagi mereka. Perbedaan antara Jerman Barat dan Timur bagaikan bumi serta langit. Barang-barang di toko segera ludes pada hari itu.
.
Salah satu barang atau tepatnya makanan yang diburu oleh penduduk Berlin Timur adalah pisang. Mereka sering melihat pisang tetapi tidak pernah memakannya. Hampir sebagian besar pisang di Jerman Timur diekspor dan warganya sama sekali tidak kebagian. Barangkali yang dapat menikmatinya hanya para elit partai SED. Nampak sekali suasana kegembiraan yang meluap-luap karena mereka mendapatkan kebebasan setelah dikekang selama hampir empat dasawarsa.
.
Kesempatan itu menjadi momen bersatunya kembali para anggota keluarga yang tercerai berai akibat pembangunan Tembok Berlin. Saya pernah mendengar cerita mengenai seseorang yang saat pulang dari tempat kerjanya di Berlin Barat tidak dapat pulang lagi ke rumahnya di Berlin Timur karena tembok sudah berdiri. Begitu pula sebaliknya.
.
Saat saya berada di Jerman, perbedaan antara timur dan barat ini masih terasa. Di kawasan Jerman Timur masih banyak jalan yang rusak dan berlubang-lubang. Telepon umum di kawasan Jerman Timur masih menggunakan sistim analog, sedangkan di Barat sudah menggunakan digital. Jika kita memandangnya akan terasa sekali kontrasnya. Wilayah Jerman Timur masih terkesan kumuh.
.
Perbedaan lain yang menyolok adalah dalam hal mobil. Mobil penduduk Jerman Timur terkesan sangat kuno dan ketinggalan zaman. Di Jerman Timur, orang hanya dapat memiliki satu jenis mobil saja yang disebut Trabant (atau dalam bahasa percakapan disebut Trabi). Itu pun harus mengantri selama bertahun-tahun. Bandingkan dengan di Jerman Barat yang terdapat berbagai merk mobil, seperti Mercedes Benz, Porsche, dan Audi. Semuanya merupakan merk-merk mobil kelas dunia.
.
Tidak semua orang Jerman, terutama warga Jerman Barat, menyukai penyatuan ini, karena pajak mereka dipergunakan membangun bekas wilayah Jerman Timur yang masih jauh tertinggal. Menurut informasi seorang sahabat yang baru saja pulang dari mengunjungi Berlin, sekarang hasil pembangunan ini sudah tampak nyata. Berlin Timur menjadi kota yang sangat maju. Pada masa saya masih kuliah di Jerman, Berlin Timur mempunyai predikat buruk sebagai sarang skinheads atau kelompok anti orang asing yang sangat rasialis, dimana mereka juga disebut kaum Neonazi. Sebagai tambahan, bangkitnya Neonazi merupakan salah satu dampak buruk penyatuan kedua Jerman. Pemuda-pemuda Jerman Timur yang menganggur karena kalah dalam persaingan dunia kerja mengambing hitamkan orang asing sebagai penyebab kemalangan mereka.
.
Namun Berlin semakin berbenah diri dan bahkan dijadikan kembali ibukota Jerman. Pembangunan benar-benar digalakkan.
.
Sebagai penutup, dahulu kepingan Tembok Berlin yang sudah dihancurkan itu sempat dijadikan suvenir atau kenang-kenangan bagi para turis yang berkunjung ke sana. Tetapi katanya ada juga yang palsu. Saya sempat mengambil sendiri sisa-sisa hancuran Tembok Berlin tersebut. Caranya dengan memukul-memukul tembok itu dengan batu dan butiran-butiran hancurannya saya tampung. Sayangnya sisa-sisa tembok tersebut sudah hilang entah ke mana.
.
Demikianlah sedikit catatan mengenai seluk beluk Tembok Berlin berserta sejarahnya.

Selasa, 09 Februari 2016

DER ZEEFAHRER

DER ZEEFAHRER

Ivan Taniputera.
10. Februar 2016

Der Zeefahrer
Kreuzt das grosse Meer
Nach Unbekanntheit
Mal stürmisch
Mal ruhig
Hinter ist die Vergangenheit
Vorne ist die Zukunft
Der Zeefahrer
Nur die Ruf der Seele
Folgen immers
Fische und Vögel und Zeewind
sind die Freunde nah
Sterne am Nacht
sind die ewige Wächter
Tag und Nacht
Segelt der Schiff
Bis an der Küste,
der gute Hoffnung

Minggu, 30 Agustus 2015

RASISME DI JERMAN: SUATU PERBANDINGAN

RASISME DI JERMAN: SUATU PERBANDINGAN

Ivan Taniputera
29 Agustus 2015


Belakangan ini kasus rasisme mendera negara kita. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya berniat melakukan studi banding mengenai bagaimana rasisme di Jerman. Sebenarnya ini hanya penyusunan ulang data-data yang diambil dari wikipedia saja. Oleh karena itu, para pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak dapat melakukan pemeriksaan ulang dari buku atau literatur yang kompeten. Saya mempunyai berbagai buku tentang hal tersebut, hanya saja belum ada waktu memeriksanya. Sementara ini, sumber saya batasi dari internet saja, khususnya wikipedia. Saya mengupayakan sumber-sumber diambil dari artikel berbahasa Inggris, walaupun terkadang sumber berbahasa Jerman lebih lengkap. Mengenai film-film atau video dari youtube saya terpaksa mengambil yang berbahasa Jerman, karena menurut penilaian saya hanya itu sumber terbaik mengenai topik ini.

Begitu mendengar kata Jerman, maka yang terlintas di pikiran kita adalah sebuah negara maju yang terkenal akan teknologi permesinannya. Negara ini terkenal akan industri otomotifnya. Semua orang pasti akan langsung teringat pada Jerman, begitu melihat mobil dengan lambang lingkaran dengan bintang bersudut tiga di dalamnya. Jerman juga terkenal akan pendidikannya. Banyak orang Indonesia yang melanjutkan studi di sana. Meskipun demikian, Jerman sendiri tetap mempunyai penyakit akut yang telah berjangkit semenjak lama, yakni rasisme. Pada awalnya rasisme itu ditujukan pada orang-orang Yahudi yang menetap di Jerman. Hal ini dapatlah dipahami mengingat bahwa satu-satunya elemen yang dianggap asing waktu itu adalah orang Yahudi. Salah satu alasan yang dipakai untuk membenci kaum Yahudi adalah keagamaan, yakni mereka dianggap telah menyalibkan mesias menurut agama Kristen. Kebencian yang khusus ditujukan pada orang Yahudi itu disebut antisemitisme. Mungkin pada awalnya, sikap kebencian itu tidak bersikap rasial, karena konsep ras belum begitu berkembang pada masa itu.  Mereka mungkin tidak disukai karena dipandang sebagai "elemen" asing di tengah-tengah masyarakat Eropa, disamping penganut suatu keyakinan yang berbeda.

Sebagai tambahan, konsep tentang ras saat itu belum berkembang dan masih terpengaruh pandangan tradisional. Konsep mengenai ras yang dianut oleh orang Eropa baru berkembang setelah Abad Penjelajahan dan timbulnya kolonialisme, yakni setelah mereka menjelajahi bumi ini dan berjumpa dengan banyak bangsa (1).

Kebencian terhadap orang Yahudi selama abad pertengahan itu seringkali meledak dalam bentuk penganiayaan (pogrom). Berikut ini adalah pogrom-pogrom yang terkenal dalam sejarah.

  • Penganiayaan terhadap orang Yahudi pada era Perang Salib Pertama (1096-1349). Pembantaian dilakukan pada kaum Yahudi di Trier, Mainz, Worm, dan Koeln.
  • Saat meletusnya wabah sampar yang dikenal sebagai Maut Hitam, orang-orang Yahudi dituduh telah meracuni sumur dan banyak di antara mereka dikejar-kejar serta dibunuh. (2)

Sebagai catatan, sebenarnya penganiayaan terhadap orang Yahudi tidak hanya terjadi di Jerman saja melainkan juga di berbagai bagian Eropa lainnya, seperti Kekaisaran Rusia. Tetapi karena pembahasan kita adalah Jerman, maka cukup disebutkan saja mengenai peristiwa penganiayaan di Jerman.

Penganiayaan terhadap orang Yahudi itu berpuncak pada bangkitnya Nazi. Penganiayaan tersebut menjadi politik resmi Nazi semenjak tahun 1933. Yahudi internasional melakukan pembalasan pada tanggal 1 April 1933 dengan memboikot seluruh barang buatan Jerman. Sebagai balasannya, pemerintah Nazi mengumumkan boikot terhadap seluruh toko, dokter, dan pengacara Yahudi. Kedudukan kaum Yahudi semakin dipinggirkan di tengah masyarakat Jerman. Mereka dilarang menjadi pegawai pemerintah. (3)

Untuk menjaga kemurnian ras Jerman, maka dikeluarkanlah apa yang dinamakan Undang-undang Kemurnian Ras Nuremberg pada tanggal 15 September 1935. Undang-undang ini melarang pernikahan antara orang Yahudi dan Jerman. (4)

Penderitaan kaum Yahudi makin berpuncak dengan didirikannya kam-kam konsentrasi (Inggris: concentration camp, Jerman: Konzentrationslager). Mereka diharuskan melakukan kerja paksa dengan kondisi yang sangat mengenaskan, menjadi sasaran percobaan medis kejam oleh orang-orang seperti Mengele, dibunuh dalam kamar gas dan lain sebagainya (5).

Kita tidak akan membahas lebih jauh hal ini. Rezim Nazi dikalahkan pada tahun 1945 dan Jerman mengalami kehancuran total. Sejarah ini sudah banyak kita ketahui bersama, sehingga tidak perlu dibahas terlalu jauh. Sebagai tambahan, tidak seluruh orang Jerman menyetujui politik rasisme Nazi ini. Banyak orang Jerman yang menentang rezim Nazi dan menyelamatkan orang Yahudi. Mereka adalah pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang berani berkata tidak pada kejahatan. Mereka antara lain adalah Oscar Schindler, Gustav Schröder, Wilm Hosenfeld, Heinz Drossel, dan lain sebagainya. Dengan demikian, kita tidak bisa melakukan generalisasi bahwa semua orang Jerman adalah antisemitik.

Setelah Jerman dibangun kembali dari kehancuran pascaPerang Dunia II, rasisme belum menghilang, meskipun undang-undang Jerman melarangnya dengan tegas. Saya akan kemukakan terlebih dahulu pengalaman mahasiswa Indonesia, dimana mereka mengalami serangan oleh kaum Neonazi. Perihal tersebut dapat dibaca di:


Jadi pada masa Jerman modern, rasisme kini ditujukan pada seluruh orang asing (Ausländer), tidak peduli apakah mereka Yahudi atau bukan. Mungkin karena kini elemen-elemen asing itu bukan hanya orang Yahudi saja, maka kebencian ditujukan pada seluruh orang asing atau elemen yang mereka anggap asing.

Jerman pascaPerang Dunia II, dapat menjadi negara yang makmur dan mengundang kaum pendatang atau imigran dari luar, termasuk Indonesia. Sebagian orang Jerman terutama dari partai kanan yang menerapkan nasionalisme sempit memandang mereka sebagai ancaman bagi lapangan pekerjaan mereka. Sebagai informasi, pada era tahun 1970-an untuk meningkatkan industri mereka, orang Jerman banyak mendatangkan orang-orang Turki sebagai pekerja. Dengan demikian, jumlah orang Turki di Jerman menjadi makin signifikan. Hal ini menimbulkan gesekan dengan kaum Neonazi.

Pada tanggal 29 Mei 1993, terjadi pembakaran terhadap rumah orang Turki di Sollingen. Lima orang menjadi korban. Pemerintah Jerman melakukan penanganan serius terhadap hal ini. Para korban yang masih hidup mendapatkan santunan 270.000 DM. Presiden Jerman waktu itu  Richard von Weizsäcker menghadiri  dan berpidato dalam acara peringatan pembakaran di Sollingen tersebut. Para pelaku dijatuhi hukuman 10-15 tahun (6).

Secara umum rasisme tidak pernah hilang dari Jerman. Berikut ini adalah film menarik mengenai seorang peneliti berkebangsaan Jerman bernama Günter Wallraff yang menyamar menjadi orang kulit hitam. Ia mendapatkan penolakan dan diskriminasi saat hendak menyewa apartemen atau bergabung dengan klub pencinta anjing. Mereka tidak menyadari bahwa orang kulit hitam di hadapan mereka sebenarnya adalah orang kulit putih. Meski Anda tidak bisa berbahasa Jerman, tetapi tetap menarik menyaksikan film ini. Saksikan saja gambarnya. Pada menit-menit pertama, Anda akan melihat bahwa Günter Wallraff dirias menjadi orang kulit hitam, yang sangat jauh berbeda dengan wajah aslinya. Jadi saksikan saja film ini ini:


Meski PD II telah berlalu lebih dari 70 tahun, kebencian terhadap orang Yahudi masih saja berlangsung, sebagaimana yang dapat kita saksikan di https://www.youtube.com/watch?v=cnKXVUaQLSA. Film ini dibuka dengan pemuda-pemuda Jerman yang meneriakkan "Judenschweine" atau "Babi Yahudi." Udo Pastörs, politikus dari partai NPD (partai ekstrim kanan di Jerman) sering mengemukakan sebutan-sebutan anti Yahudi, walaupun dalam wawancara ia menyangkal sebagai antisemistik. Ia menyebut Republik Federal Jerman (Bundesrepublik) sebagai "Judenrepublik" (Republik Yahudi) dan orang-orang Turki sebagai "Samenkanonen" (meriam sperma) (7). Atas ucapannya itu, Udo Pastors harus menghadapi sidang di pengadilan dan diharuskan membayar denda.

Di Jerman, simbol-simbol Nazi lama, seperti swastika dan lain sebagainya adalah terlarang. Kendati demikian, kuburan-kuburan Yahudi  dan sinagoga masih menjadi sasaran vandalisme oleh Neonazi, yakni dengan coretan gambar swastika.

Diskriminasi di Jerman juga berlangsung dalam hal lamaran pekerjaan. Pelamar yang mempunyai prestasi dan nilai ijazah sama, tetapi mempunyai nama asing, lebih jarang dipanggil untuk wawancara. Gagasan pendirian mesjid di Jerman juga banyak mendapatkan tentangan dari kaum ekstrim kanan.

Terlepas dari masih adanya rasisme di Jerman, pemerintah di sana nampak lebih serius dalam menegakkan hukum. Mereka memandang bahwa rasisme dan kebencian terhadap orang asing sebagai noda yang memalukan. Suatu noda yang seharusnya tidak ada lagi dalam masyarakat modern yang beradab.

SUMBER:

(5) Informasi lebih jauh tentang kam konsentrasi, lihat di http://www.ushmm.org/wlc/en/article.php?ModuleId=10005144

Sabtu, 30 Agustus 2014

SATU LAGI PENGALAMAN LUCU DARI NEGERI JERMAN

SATU LAGI PENGALAMAN LUCU DARI NEGERI JERMAN

Ivan Taniputera
23 Agustus 2014





Ini adalah pengalaman seorang teman sewaktu kuliah di Jerman. Teman tersebut baru datang ke Jerman, sehingga bahasa Jermannya belum lancar. Untuk menambah uang saku, ia bekerja sebagai pelayan restoran. Ketika itu, ia hendak menawarkan pelanggannya apakah menghendaki sepoci teh. Ia lalu bertanya, "Möchten Sie ein Kaninchen Tee?" Namun pelanggan itu hanya diam saja kebingungan. Teman itu lantas mengulangi pertanyaannya, kali ini dengan gerakan isyarat menuangkan teh. Baru tamu itu paham.

Rupanya ia salah mengatakan Kännchen dengan Kaninchen.

Kännchen artinya adalah poci, sedangkan Kaninchen artinya adalah kelinci.

Mungkin sang pelanggan merasa bingung, semenjak kapan kelinci dapat mengeluarkan teh.